FSG Buka Pintu Investasi Minoritas: Liverpool Diincar Konsorsium Amit Bhatia
Baca dalam 60 detik
- Fenway Sports Group tengah menjajaki investasi minoritas dari konsorsium Amit Bhatia, yang berpotensi menaikkan valuasi Liverpool di atas £4,5 miliar.
- Di tengah musim penuh gejolak—termasuk kepergian pelatih dan sejumlah pemain bintang—CEO Billy Hogan menegaskan komitmen FSG untuk menjaga stabilitas klub.
- Investasi ini dinilai sebagai langkah strategis memperkuat posisi Liverpool di kancah global, sekaligus membuka peluang baru bagi penggemar di Asia, termasuk Indonesia.

Fenway Sports Group (FSG), pemilik Liverpool, tengah membuka peluang masuknya investor eksternal lewat negosiasi dengan konsorsium yang dipimpin miliarder Inggris-India Amit Bhatia. Langkah ini dinilai sebagai strategi memperkuat fundamental finansial klub di tengah persaingan Premier League yang kian ketat.
Billy Hogan, CEO Liverpool sekaligus FSG, mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan konsorsium Bhatia telah berlangsung dan optimisme akan tercapainya kesepakatan semakin menguat. “John Henry dan FSG sejak awal menyatakan akan mempertimbangkan investasi yang menguntungkan klub. Itu masih berlaku,” ujar Hogan dalam wawancara dengan BBC Sport di New York, menjelang laga pramusim melawan Wrexham di Yankee Stadium.
Menurut laporan Financial Times, kesepakatan tersebut mematok valuasi Liverpool di angka lebih dari £4,5 miliar—melonjak jauh dari harga akuisisi FSG sebesar £300 juta pada 2010. Hogan menegaskan bahwa FSG tidak berniat melepas kendali, melainkan mencari mitra strategis untuk mendorong pertumbuhan pendapatan dan daya saing klub.
Musim lalu menjadi ujian berat bagi Liverpool. Setelah menghabiskan dana transfer £450 juta—rekor klub—tim justru tampil inkonsisten, berujung pada pemecatan pelatih Arne Slot. Kepergian Mohamed Salah, Andy Robertson, dan Ibrahima Konate secara gratis menambah daftar masalah. Di sisi manajemen, Michael Edwards mundur dari jabatan CEO Sepak Bola FSG karena rencana kepemilikan multi-klub dibatalkan, sementara direktur olahraga Richard Hughes dikaitkan dengan kepindahan ke Al Hilal.
Hogan mengakui bahwa transisi adalah keniscayaan dalam sepak bola, namun ia optimistis dengan arah baru di bawah pelatih Andoni Iraola. “Ada kegembiraan seputar filosofi dan pola pikir Andoni. Butuh waktu, tapi kepemimpinan dari pemilik sangat stabil,” katanya. Ia menegaskan bahwa model klub tetap berpegang pada prinsip keberlanjutan, di mana pendapatan yang dihasilkan kembali diinvestasikan ke dalam tim.
Di luar lapangan, FSG juga berbenah. Setelah protes suporter, kenaikan harga tiket musim depan dipangkas. Anfield terus diperluas dengan dua dari empat tribun telah direnovasi dalam satu dekade terakhir. Hogan menyebut pengembangan kawasan sekitar stadion menjadi prioritas, termasuk infrastruktur dan transportasi untuk menarik pengunjung di luar hari pertandingan.
Perhatian juga mulai beralih ke tim wanita yang finis di posisi ke-11 WSL musim lalu. “Kami mungkin lengah beberapa tahun lalu, tapi sekarang kami punya pusat latihan terbaik di AXA Melwood dan pendekatan yang sama seperti tim pria: berkelanjutan,” ujar Hogan. Ia melihat potensi besar dalam pertumbuhan sepak bola wanita.
Bagi penggemar di Indonesia, berita ini membawa angin segar. Dengan basis penggemar Liverpool yang besar di Tanah Air, investasi baru berpotensi meningkatkan aktivitas komersial dan keterlibatan klub di Asia Tenggara. Apakah kehadiran investor baru akan mempercepat ekspansi Liverpool di pasar Asia? Atau justru mengubah arah kebijakan transfer yang selama ini hati-hati? Musim depan akan menjadi ujian nyata bagi era baru di Anfield.



