Dolar Melemah Tipis, Pasar Menanti Sikap The Fed soal Suku Bunga
Baca dalam 60 detik
- Indeks dolar AS turun tipis ke 101,38 menjelang pengumuman suku bunga The Fed, dengan probabilitas kenaikan 25 basis poin mencapai 36 persen.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak naik, menambah tekanan pada bank sentral AS yang minim panduan dari Ketua Kevin Warsh.
- Yen Jepang tetap di dekat level terendah 40 tahun, meningkatkan spekulasi intervensi otoritas moneter Jepang untuk menopang mata uangnya.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak turun tipis pada perdagangan Rabu (29/7) waktu setempat, namun masih bertahan dalam kisaran sempit terhadap mata uang utama dunia. Pergerakan ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan hari ini, dengan sebagian analis memperingatkan bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga masih terbuka.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat melemah 0,04 persen ke level 101,38. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 36 persen, angka yang cukup signifikan mengingat The Fed sebelumnya cenderung mempertahankan suku bunga.
Analis Ballinger Group, Kyle Chapman, menilai keputusan The Fed kali ini sulit ditebak. Menurutnya, skenario paling mungkin adalah The Fed menahan suku bunga namun dengan nada hawkish, yang secara teori akan memicu penyesuaian ulang suku bunga jangka pendek dan justru merugikan dolar. Chapman juga menyoroti pentingnya melihat hasil pemungutan suara dalam komite, karena investor akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan ke depan.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan gabungan AS dan Arab Saudi terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak. Serangan ini terjadi beberapa jam setelah militer AS mengklaim berhasil menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS di kawasan tersebut. Eskalasi ini mendorong harga minyak mentah naik, yang turut mempengaruhi sentimen pasar.
Pasar valuta asing cenderung tenang karena investor memilih wait and see menjelang keputusan The Fed. Euro tercatat menguat tipis 0,03 persen ke $1,1389, sementara poundsterling hampir tidak berubah di $1,3292, mendekati level terlemah sejak awal Juli. Dolar Kanada juga menguat 0,2 persen ke C$1,4085 per dolar AS.
Kepala Riset Makro Monex Europe, Nick Rees, mengatakan bahwa ketidakpastian seputar pertemuan The Fed kali ini sangat tinggi. Ia memperkirakan volatilitas akan meningkat setelah pengumuman, terlepas dari hasil keputusan yang diambil. Rees menambahkan bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, pasar memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga yang cukup besar.
Terhadap yen Jepang, dolar AS melemah tipis 0,05 persen ke 163,78 yen, namun masih berada di dekat level tertinggi dalam 40 tahun. Posisi ini membuat para trader waspada terhadap potensi intervensi dari otoritas Jepang untuk menopang mata uangnya. Kepala Strategi FX SMBC, Hirofumi Suzuki, memperingatkan bahwa keputusan The Fed dan konferensi pers Ketua Kevin Warsh bisa mendorong dolar menguat lebih lanjut, berpotensi mendorong USD/JPY ke level 164.
Di pasar kripto, Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 0,7 persen ke $64.249, meskipun pergerakannya relatif terbatas di tengah ketidakpastian makroekonomi.
Bagi Indonesia, pergerakan dolar AS dan suku bunga The Fed memiliki implikasi langsung terhadap nilai tukar rupiah, arus modal asing, dan stabilitas pasar keuangan domestik. Jika The Fed memutuskan menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah dan obligasi pemerintah Indonesia berpotensi meningkat. Sebaliknya, jika suku bunga ditahan, ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar menjadi lebih longgar. Pertanyaannya, apakah The Fed akan mengambil langkah tak terduga yang bisa mengguncang pasar negara berkembang, termasuk Indonesia?



