Houthi dan Iran Dituding Rancang Pungutan Biaya Kapal di Laut Merah, Ancaman Baru bagi Pasokan Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Yaman yang diakui internasional menuduh Houthi bekerja sama dengan Iran merancang sistem pungutan bagi kapal yang melintasi Laut Merah, meniru strategi Teheran di Selat Hormuz.
- Langkah ini dinilai sebagai eskalasi berbahaya yang dapat mengubah jalur pelayaran strategis menjadi sumber pendanaan milisi, mengancam pasokan minyak Saudi dan stabilitas pasar energi global.
- Jika diterapkan, biaya baru di Bab el-Mandeb berpotensi memicu kenaikan biaya logistik dan harga energi, dengan dampak langsung pada negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menuding kelompok Houthi tengah menyusun skema pungutan bagi kapal niaga yang melintasi Laut Merah, dengan dukungan teknis dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Langkah ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap jalur energi global yang sudah tertekan oleh ketegangan di Selat Hormuz.
Menteri Penerangan Yaman, Moammar al-Eryani, dalam pernyataan eksklusif kepada AFP pada Rabu (29/7) mengungkapkan bahwa intelijen yang dikonfirmasi menunjukkan IRGC terlibat langsung dalam merancang kerangka teknis dan administratif proyek tersebut. โPara ahli dan penasihat Iran terlibat langsung dalam mendesain proyek ini,โ ujarnya. Eryani menambahkan bahwa Houthi berencana membentuk entitas khusus yang bertugas memungut pembayaran dari perusahaan pelayaran dan kapal komersial.
Langkah Houthi ini dipandang sebagai upaya meniru strategi Iran di Selat Hormuz, di mana Teheran selama ini mempertahankan haknya untuk memungut biaya dari kapal yang melintas. Selat Hormuz sebelumnya membawa seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia. Kini, perhatian beralih ke Selat Bab el-Mandeb di muara Laut Merah, yang menjadi jalur kritis bagi ekspor minyak Saudi setelah serangan Iran menghambat pengiriman melalui Hormuz.
Eryani menyebut rencana pungutan ini sebagai โeskalasi berbahayaโ yang bertujuan mengubah salah satu koridor maritim paling strategis di dunia menjadi sumber pendanaan permanen bagi aktivitas militer dan teroris milisi. Kekhawatiran meluas di kawasan Teluk bahwa Houthi berharap mengomersialkan akses ke Bab el-Mandeb, langkah yang dapat mengacaukan pasar energi global lebih lanjut.
Konflik terbaru antara Saudi dan Houthi memanas setelah serangan balasan Saudi menargetkan posisi Houthi. Bentrokan ini merupakan yang terberat dalam beberapa tahun terakhir dan mengancam gencatan senjata 2022. Koalisi pimpinan Saudi telah berperang melawan Houthi sejak 2015, setelah pemberontak merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah yang diakui internasional mengungsi.
โIntelijen menunjukkan bahwa para ahli dan penasihat IRGC terlibat langsung dalam merancang kerangka teknis dan administratif proyek ini,โ kata Menteri Penerangan Yaman Moammar al-Eryani.
Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur pelayaran utama seperti Laut Merah berpotensi mendongkrak biaya logistik dan harga energi domestik. Jika pungutan Houthi benar-benar diterapkan, biaya pengiriman minyak mentah dan barang konsumen dari kawasan Teluk dapat melonjak, memperburuk tekanan inflasi yang sudah dirasakan masyarakat. Selain itu, ketidakstabilan di Yaman dan sekitarnya juga berimplikasi pada keamanan jalur perdagangan Indonesia-Timur Tengah.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah komunitas internasional akan mengambil tindakan tegas untuk mencegah Houthi mewujudkan rencana ini, atau membiarkan Laut Merah menjadi ajang proksi baru perang Iran-Arab Saudi yang dampaknya akan dirasakan oleh seluruh rantai pasok global.



