Anggaran Jadi Batu Sandungan Pembinaan Sepak Bola Putri Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Amazon Jepang memajang listing produk 007 First Light untuk Switch 2 dengan tanggal rilis 16 September 2026.
- IO Interactive mengonfirmasi pengembangan versi Switch 2 sudah dalam tahap optimasi, memperkuat kredibilitas bocoran tersebut.
- Bagi gamer Indonesia, kehadiran game ini di konsol anyar Nintendo berpotensi mendorong adopsi Switch 2 di pasar Asia Tenggara.

Anggota Komite Eksekutif PSSI, Vivin Sungkono Cahyani, menegaskan bahwa hambatan terbesar dalam pengembangan sepak bola putri di Indonesia bukanlah rendahnya minat pemain, melainkan keterbatasan anggaran. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Srikandi Merdeka Cup 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut Vivin, antusiasme perempuan muda untuk bermain sepak bola justru terus meningkat, terutama setelah prestasi tim nasional yang kian mentereng. โKalau bicara kesulitan, semuanya kembali ke budget. Keinginan anak-anak untuk main bola sudah kuat,โ ujarnya. Ia mencontohkan keberhasilan timnas putri yang berhasil merebut gelar juara ASEAN Championship sebagai bukti bahwa Indonesia tidak kalah bersaing di level regional.
Namun, di balik prestasi itu, pembinaan di tingkat provinsi menghadapi dilema. Vivin menjelaskan, asosiasi provinsi (Asprov) dibebani kewajiban menyelenggarakan berbagai kompetisi PSSIโmulai dari Piala Soeratin hingga Liga 4โtanpa tambahan dukungan dana yang memadai. โAsprov enggak mampu kalau harus menggelar semua itu sambil juga diwajibkan mengadakan kompetisi putri,โ katanya. Akibatnya, pengembangan pemain putri di daerah kerap terhenti di tengah jalan.
Di tengah keterbatasan itu, kehadiran pihak swasta menjadi angin segar. Vivin mengapresiasi Yayasan Bakti Olahraga Djarum Foundation yang menjalankan program pembinaan berjenjang melalui MilkLife Soccer Challenge (MLSC) untuk kelompok usia U10 dan U12, Hydroplus Soccer League (HSL) untuk U15-U18, serta Srikandi Merdeka Cup untuk U16. โTrilogi ini sudah menjawab tantangan yang bertahun-tahun tidak ada solusi di PSSI. Saya berharap konsistensi ini berlanjut,โ ungkapnya.
Langkah Djarum Foundation ini dinilai menjadi model kemitraan yang ideal, di mana swasta mengambil peran yang selama ini kosong dari federasi. Ke depannya, PSSI diharapkan tidak hanya mengandalkan sponsor tetapi juga mengalokasikan anggaran khusus untuk pembinaan putri, agar prestasi yang sudah diraih bisa berkelanjutan. Pertanyaannya, mampukah PSSI merumuskan skema pendanaan yang lebih terstruktur untuk memastikan regenerasi pemain putri tidak terputus?



