Biaya Meningkat, Restoran Dan's Steaks Milik Eks DJ Singapura Tutup untuk Selamanya
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengusaha Singapura dijatuhi denda S$5.000 dan larangan mengemudi enam bulan karena mengendarai Porsche dengan kedua putranya duduk di bagasi mobil.
- Insiden yang direkam istri dan diunggah ke TikTok itu terungkap setelah laporan pengendara lain; jaksa menyebut tidak ada cedera hanyalah keberuntungan belaka.
- Hakim menyoroti catatan pelanggaran lalu lintas pria tersebut yang panjang, meskipun pengacara mengklaim kliennya memiliki ikatan emosional kuat dengan anak-anaknya.

Mantan penyiar radio Singapura yang juga pengusaha kuliner, Daniel Ong, mengumumkan penutupan restoran Dan's Steaks dalam beberapa bulan ke depan. Keputusan itu diambil setelah biaya operasional—mulai dari bahan pangan, upah staf, hingga sewa—terus meroket tanpa diimbangi kenaikan pendapatan.
Ong, yang dikenal luas sebagai pendiri Twelve Cupcakes yang kini juga gulung tikar, menyampaikan pengumuman tersebut melalui unggahan media sosial pada 28 Juli lalu. “Realitas menjalankan restoran sudah berubah,” tulisnya. “Biaya makanan naik terus. Gaji staf naik. Sewa naik. Ditambah persaingan yang semakin ketat, bertahan secara berkelanjutan menjadi mustahil.”
Perjalanan bisnis Ong di industri F&B memang penuh dinamika. Sebelum Dan's Steaks, ia mendirikan Twelve Cupcakes bersama mantan istrinya, Jaime Teo, pada 2011. Rantai toko kue populer itu dijual ke konglomerat India Dhunseri Group pada 2017 sebelum akhirnya tutup pada 2025. Ong juga pernah menjalankan Rookery dan Mischief at Esplanade, yang kini telah berhenti beroperasi. Pola serupa kembali terulang: ekspansi agresif diikuti penutupan bertahap.
Di Indonesia, kondisi serupa kerap menghantui pelaku usaha kecil dan menengah di sektor kuliner. Kenaikan harga bahan impor—seperti daging sapi yang menjadi menu utama Dan's Steaks—ditambah lonjakan upah minimum dan sewa tempat strategis, memaksimalkan margin tipis. Banyak restoran lokal memilih bertahan dengan efisiensi operasional, tetapi tidak sedikit yang menyerah. Kisah Ong bisa menjadi pelajaran bahwa perluasan gerai tanpa pondasi keuangan yang solid berisiko menjerat pemilik dalam utang jangka panjang.
“Saya berharap bisnis ini bisa cukup ramai untuk membayar sebagian utang dan menutup dengan martabat,” ungkap Ong dalam unggahan susulan. Ia juga mengajak pelanggan setia untuk datang sekali lagi sebelum restoran benar-benar tutup.
Langkah terakhir yang dilakukan Ong adalah menghapus pajak GST dari menu—kebijakan yang mulai berlaku 1 Agustus. “Hidup sudah cukup sulit. Kami jaga harga tetap datar agar Anda bisa makan tanpa sembilan persen di atasnya,” katanya. Promosi “Dan's Disappearing Deals” juga akan dijalankan melalui Instagram Stories untuk menarik pengunjung di masa-masa akhir.
Penutupan Dan's Steaks menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan model bisnis restoran kecil di era biaya yang terus meningkat. Apakah strategi ekspansi yang terburu-buru dan pengelolaan arus kas yang longgar menjadi faktor utama? Ataukah ini cerminan tren industri yang lebih luas, di mana rantai pasok dan daya beli konsumen tidak lagi mendukung operasional skala kecil? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, ketika debu mulai mereda dan para pelaku usaha menghitung kembali langkah mereka.



