Setelah Studio Asli Bubar, Sekuel Wuchang: Fallen Feathers Dikerjakan Kreator Aslinya
Baca dalam 60 detik
- Penerbit 505 Games mengumumkan pengembangan sekuel Wuchang: Fallen Feathers oleh studio baru Indolphinity yang didirikan kreator asli Xia Siyuan.
- Langkah ini diambil setelah studio pengembang awal, Leenzee, dibubarkan dan hak waralaba diakuisisi oleh Digital Bros, induk perusahaan 505 Games.
- Kemitraan ini memastikan pengembangan tetap berbasis di China untuk menjaga autentisitas dan identitas budaya IP tersebut.

Waralaba gim aksi Wuchang: Fallen Feathers yang sempat dianggap mati suri setelah studio aslinya bubar, kini mendapat napas baru. Penerbit 505 Games mengumumkan bahwa sekuel gim tersebut tengah dalam pengembangan oleh Indolphinity, studio baru yang didirikan oleh Xia Siyuan—sosok di balik kelahiran waralaba ini.
Kabar ini muncul sekitar setahun setelah perilisan perdana Wuchang: Fallen Feathers pada Juli 2025 yang menuai sambutan positif. Namun, pada April 2026, beredar kabar bahwa tim pengembang di Leenzee, studio asal China yang menciptakan gim tersebut, telah dibubarkan. Tak lama berselang, Digital Bros—perusahaan induk asal Italia yang menaungi 505 Games—mengumumkan akuisisi atas hak kekayaan intelektual (IP) Wuchang: Fallen Feathers.
Keputusan untuk menghidupkan kembali waralaba dengan menggandeng sang kreator asli menjadi langkah strategis. Dalam pernyataan resmi, 505 Games dan Indolphinity menegaskan komitmen bersama terhadap potensi jangka panjang waralaba ini, serta menjaga keaslian dan identitas budaya IP yang kental dengan nuansa sejarah China. “Melalui kemitraan ini, 505 Games dan Indolphinity menegaskan kembali keyakinan mereka terhadap potensi jangka panjang waralaba Wuchang dan komitmen bersama untuk menjaga keaslian serta identitas budaya dari kekayaan intelektual ini,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dikutip dari rilis pers.
Yang menarik, seluruh pengembangan kreatif sekuel ini akan tetap berbasis di China. Langkah ini diambil untuk memastikan kesinambungan visi, kualitas, dan eksekusi, berkat kolaborasi erat antara Xia Siyuan dan 505 Games. Bagi para penggemar, keputusan ini menjadi jaminan bahwa jiwa orisinal gim—yang memadukan mitologi Tiongkok dengan soulslike—tidak akan tergerus oleh campur tangan penerbit asing.
Bagi industri gim Indonesia, perkembangan ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana sebuah IP lokal bisa tetap lestari meskipun studio aslinya bubar. Di tengah maraknya akuisisi studio gim oleh perusahaan global, model kemitraan yang mempertahankan kendali kreatif di tangan kreator asli bisa menjadi inspirasi bagi pengembang Tanah Air. Apalagi, dengan semakin besarnya pasar gim Indonesia, potensi kolaborasi serupa antara pengembang lokal dengan penerbit internasional bukanlah hal yang mustahil.
Pertanyaan besar kini mengemuka: akankah sekuel Wuchang: Fallen Feathers mampu mempertahankan standar kualitas yang telah dibangun pendahulunya? Atau justru tekanan untuk memenuhi ekspektasi pasar global akan mengubah arah kreatif waralaba ini? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti—kembalinya sang kreator asli menjadi angin segar bagi para penggemar yang menantikan petualangan baru di dunia Wuchang.



