Dokumenter BBC Ungkap Dugaan Pelecehan Jared Leto: Korban Remaja dan 'Karakter' Misterius
Baca dalam 60 detik
- Lima perempuan, empat di antaranya masih remaja, mengaku mendapat telepon seksual eksplisit dari Jared Leto.
- Para korban menduga Leto menggunakan karakter fiktif bernama 'Christian' untuk melakukan percakapan yang lebih vulgar.
- Dokumenter BBC 'Jared Leto: Hollywood's Dark Secret' tayang 29 Juli 2026, memicu kembali perdebatan tentang budaya diam di industri hiburan.

Dokumenter baru BBC mengungkap dugaan praktik pelecehan seksual yang melibatkan aktor dan musisi Jared Leto, dengan kesaksian lima perempuan yang mengaku menerima telepon bernuansa seksual dari bintang Thirty Seconds to Mars itu. Empat di antaranya masih berusia belasan tahun saat kejadian berlangsung.
Dalam tayangan berjudul Jared Leto: Hollywood's Dark Secret, seorang perempuan yang diidentifikasi sebagai Etta menceritakan pengalamannya saat berusia 16 tahun pada 2014. Ia bertemu Leto setelah mengunjungi agensi modeling di Los Angeles bersama ibunya. Leto, yang saat itu tertarik dengan ambisi karier Etta, meminta alamat email dan mengundangnya ke pesta Oscar. Namun, komunikasi itu dengan cepat berubah menjadi percakapan seksual.
"Dia mengirim email, lalu dengan cepat berubah menjadi hal seksual di telepon," ujar Etta dalam dokumenter tersebut. Ia mengaku Leto mengetahui usianya, tetapi tetap melontarkan pertanyaan seperti, "Apa kau perawan? Punya kelainan seksual?" Bahkan, Leto disebut pernah secara eksplisit membahas kemungkinan mereka berhubungan intim.
Etta mengaku merasa gugup, cemas, dan tidak nyaman, tetapi kesulitan memasang batas. Ketika Leto meminta izin untuk memberikan nomornya kepada seorang teman yang disebut bisa membantu karier modelingnya, Etta menyetujuinya. Teman yang dikenal sebagai 'Christian' itu kemudian sering menelepon dan memintanya untuk syuting film porno, dengan alasan usia bukan masalah.
Yang menarik, Etta dan dua korban lainnya mencurigai bahwa 'Christian' dan Leto adalah orang yang sama. Pasalnya, pertanyaan yang diajukan keduanya sangat mirip. "Saya tidak akan terkejut jika mereka adalah orang yang sama," kata Etta. Dua korban lain juga mengaku menerima telepon serupa dari pria lain pada waktu bersamaan, dan meyakini itu adalah Leto yang memerankan karakter.
Kisah lain datang dari Taylor, yang saat itu berusia 14 tahun dan menghadiri konser Thirty Seconds to Mars pada 2005. Ia dan ibunya mendekati Leto untuk meminta tanda tangan. Taylor mengulurkan kaus yang dikenakannya, berharap Leto menandatangani lengan atau perutnya. Namun, Leto memilih menandatangani kaus tepat di area dada sambil berkata, "Kamu punya dada yang bagus."
Taylor, yang saat itu pendek dan memakai kawat gigi, mengaku sangat jelas terlihat masih remaja. Ibunya langsung menegur Leto, tetapi sang musisi tetap bersikukuh. "Dia menatap ibu saya dan berkata, 'Tetap saja dada yang bagus'. Dia sama sekali tidak peduli," kenang Taylor. Peristiwa itu mengubah hidupnya dan membuatnya berhenti pergi ke konser.
Hingga dokumenter ini dirilis, Jared Leto belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut. BBC mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi pihak Leto, tetapi tidak mendapat respons.
Kasus ini kembali menyoroti budaya diam di industri hiburan global, di mana korban pelecehan seksual, terutama remaja, kerap kesulitan bersuara. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap muncul di industri hiburan Tanah Air, mendorong publik untuk lebih kritis terhadap perilaku figur publik. Pertanyaan besarnya: akankah dokumenter ini menjadi titik balik bagi para korban untuk mendapatkan keadilan, atau hanya akan tenggelam dalam pusaran kontroversi Hollywood?



