Singapura Gelontorkan Rp9 Triliun untuk Redam Dampak Krisis Timur Tengah pada Rumah Tangga
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura mengucurkan paket bantuan S$900 juta sebagai respons terhadap tekanan biaya hidup akibat konflik di Timur Tengah.
- Setiap rumah tangga akan menerima tambahan voucher CDC S$300 pada Januari 2027, di samping S$500 yang sudah dijadwalkan, sehingga total mencapai S$800.
- Bantuan juga mencakup peningkatan rebate U-Save untuk listrik dan kenaikan tunjangan ComCare bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Pemerintah Singapura mengumumkan paket dukungan senilai S$900 juta (sekitar Rp9 triliun) pada Rabu (29/7) untuk meredam gejolak harga energi dan kebutuhan pokok yang dipicu oleh krisis di Timur Tengah. Paket ini menyasar seluruh rumah tangga warga negara, dengan tambahan voucher belanja dan keringanan tagihan listrik yang signifikan.
Menteri Keuangan Kedua Jeffrey Siow menyatakan bahwa situasi di kawasan Teluk, khususnya gangguan pelayaran di Selat Hormuz, diperkirakan akan terus menekan harga energi global. “Kami memperkirakan harga energi global tetap tinggi, yang akan berdampak pada kenaikan biaya bensin, solar, listrik, dan barang impor tertentu,” ujarnya dalam konferensi pers. Paket ini merupakan tambahan dari paket S$1 miliar yang telah diumumkan pada April lalu.
Setiap rumah tangga Singapura akan menerima tambahan voucher Community Development Council (CDC) sebesar S$300 pada Januari 2027. Jumlah ini melengkapi S$500 yang sebelumnya dijadwalkan pada bulan yang sama namun dipercepat penyalurannya ke Juni. Total S$800 tersebut berlaku hingga 31 Desember 2027 dan dapat digunakan di lebih dari 24.000 pedagang kaki lima, toko kelontong, dan supermarket yang berpartisipasi.
Senior Menteri Negara Perdagangan dan Industri Low Yen Ling mengungkapkan bahwa dalam enam setengah bulan pertama tahun ini, rumah tangga telah membelanjakan S$1,03 miliar dari voucher SG60 dan CDC. “Jangan melihat setiap langkah dukungan secara terpisah. Semua ini saling melengkapi,” katanya. Belanja tersebut mendorong lalu lintas pengunjung dan permintaan di pusat perbelanjaan serta kedai kopi lokal.
Untuk meringankan tagihan energi, pemerintah meningkatkan rebate U-Save bagi rumah tangga HDB yang memenuhi syarat. Mulai Oktober 2026 dan Januari 2027, setiap kuartal mereka akan menerima S$110 hingga S$190—dua kali lipat dari jumlah reguler. Langkah ini memperpanjang rebate yang telah diberikan pada April dan Juli 2026 sesuai Anggaran 2026.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah, pemerintah menaikkan tunjangan ComCare Interim Assistance menjadi minimal S$250 per bulan hingga tiga bulan, dengan jumlah lebih besar bagi yang membutuhkan lebih. Persyaratan kelayakan juga dilonggarkan sehingga lebih banyak rumah tangga dapat mengakses bantuan. Perubahan ini berlaku mulai 17 Agustus hingga 31 Desember 2026. Selain itu, tunjangan ComCare Short-to-Medium-Term Assistance (SMTA) naik setidaknya 5% atau S$50 per bulan, mana yang lebih tinggi. Pada 2024, hampir 21.000 rumah tangga menerima SMTA dengan median S$380 per penerima per bulan.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menjadi cermin kebijakan fiskal dalam menghadapi guncangan eksternal. Dengan ketergantungan tinggi pada impor energi, Indonesia juga merasakan dampak kenaikan harga minyak dan inflasi. Namun, skala dan ketepatan sasaran bantuan sosial Singapura—yang mencakup voucher langsung dan rebate—bisa menjadi referensi bagi pemerintah Indonesia dalam merancang program perlindungan sosial yang lebih adaptif terhadap krisis global.
Ke depan, efektivitas paket ini akan diuji oleh durasi konflik Timur Tengah dan volatilitas harga energi. Apakah langkah serupa akan diadopsi negara tetangga seperti Indonesia untuk menjaga daya beli masyarakat?



