Manchester United Buru Morgan Gibbs-White: Suksesor Ideal Bruno Fernandes?
Baca dalam 60 detik
- Manchester United mengincar Morgan Gibbs-White sebagai kandidat suksesor Bruno Fernandes, dengan klausul mahal mencapai £120 juta.
- Gibbs-White dinilai sebagai pemain paling mirip Bruno di Premier League, unggul dalam produktivitas gol dan assist dibanding Mateus Fernandes.
- Keputusan United akan memengaruhi strategi transfer klub-klub Eropa lain yang juga memantau situasi gelandang Nottingham Forest tersebut.

Manchester United mulai menyusun rencana suksesi untuk kapten mereka, Bruno Fernandes, yang kini berusia 31 tahun. Setelah musim panas yang relatif tenang di Old Trafford, fokus manajemen kini tertuju pada pengganti jangka panjang sang playmaker Portugal. Dua nama mencuat: Mateus Fernandes dari West Ham United dan Morgan Gibbs-White, kapten Nottingham Forest. Namun, dari segi statistik dan pengalaman, Gibbs-White dinilai sebagai opsi yang lebih matang.
West Ham United, yang terdegradasi ke Championship, membuka peluang transfer Mateus Fernandes dengan banderol sekitar £80-85 juta. Pemain berusia 21 tahun itu dikabarkan tertarik pindah setelah gagal masuk skuad Portugal untuk Piala Dunia. Namun, produktivitasnya masih jauh di bawah standar yang diharapkan: hanya tujuh gol dan assist di liga musim lalu, serta enam kontribusi serupa saat dipinjamkan ke Southampton. Sebaliknya, Gibbs-White mencatatkan 19 gol dan assist di Premier League 2025/26, plus 15 kontribusi pada musim sebelumnya.
Nottingham Forest, yang berhasil bertahan di Premier League, tidak berniat melepas kapten mereka. Menurut laporan TEAMtalk, Forest diperkirakan akan meminta harga di atas £120 juta—melebihi banderol Elliot Anderson yang sudah diikat Manchester City. Ketegasan ini menunjukkan betapa berharganya Gibbs-White, yang dinilai sebagai "pemain paling mirip Bruno" di Premier League oleh seorang analis terkemuka. Kemampuannya bermain sebagai gelandang serang, gelandang tengah, atau sayap kiri membuatnya fleksibel dalam skema Ruben Amorim.
Perbandingan langsung antara Gibbs-White dan Mateus Fernandes menunjukkan kesenjangan signifikan. Gibbs-White menciptakan 15 peluang emas (big chances) dalam dua musim terakhir, sementara Fernandes hanya sembilan. Selain itu, Gibbs-White menjadi tulang punggung Forest di saat krisis—mencetak enam gol dalam lima pertandingan terakhir liga, termasuk gol indah ke gawang Manchester United sendiri. Sementara itu, Fernandes dua kali mengalami degradasi bersama Southampton dan West Ham.
Bagi sepak bola Indonesia, perburuan ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub besar Eropa mulai merencanakan transisi pemain kunci. Jika United berhasil mendatangkan Gibbs-White, ia bisa menjadi role model bagi gelandang serang muda Indonesia yang bercita-cita bermain di Premier League. Gaya bermainnya yang pekerja keras dan produktif—mirip dengan Bruno Fernandes—bisa menjadi tolok ukur baru. Sebaliknya, kegagalan mendapatkan Gibbs-White mungkin memaksa United untuk lebih mengembangkan Mateus Fernandes atau mencari opsi lain.
Dengan banyaknya klub peminat—termasuk Arsenal, Chelsea, dan Tottenham—persaingan merebut Gibbs-White diprediksi memanas. Manchester United harus bergerak cepat jika ingin mengamankan tanda tangan pemain yang dinilai sebagai "pembeda sejati" itu. Pertanyaannya: apakah INEOS bersedia mengeluarkan dana besar untuk seorang pemain yang belum pernah tampil di Liga Champions, atau akan memilih opsi yang lebih ekonomis?



