Arsenik di Mekong Mengancam Jutaan Jiwa: Bom Waktu dari Tambang Ilegal Myanmar
Baca dalam 60 detik
- Kandungan arsenik di sedimen Sungai Mekong dekat Chiang Saen mencapai 296 mg/kg, sembilan kali lipat ambang batas aman bagi biota air.
- Pencemaran ini berasal dari tambang ilegal di Myanmar yang mengeksploitasi rare earth elements di tengah konflik sipil berkepanjangan.
- Polusi telah menyebar hingga delta Mekong di Vietnam, mengancam ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat di Asia Tenggara.

Nelayan tua Somdet Singthong masih setia mengarungi perairan cokelat Sungai Mekong dengan perahu besinya, meski arsenik telah meracuni sungai yang menjadi sumber kehidupan dan kesehatannya. Tes medis menunjukkan kadar arsenik berbahaya dalam kuku dan urine pria 69 tahun itu, cerminan dari krisis polusi yang kini mengancam jutaan penduduk Asia Tenggara.
Departemen Pengendalian Pencemaran Thailand pada April lalu menemukan konsentrasi arsenik mencapai 296 miligram per kilogram sedimen di dekat Chiang Saen—lebih dari sembilan kali lipat ambang batas yang dianggap aman bagi kehidupan akuatik. Temuan ini menjadi yang pertama kalinya kontaminasi terdeteksi langsung di badan utama Sungai Mekong, tidak hanya di anak-anak sungainya.
Para peneliti dan aktivis lingkungan menunjuk tambang ilegal di Myanmar sebagai sumber utama polusi. Perang saudara yang berkepanjangan di negara tersebut membuka celah bagi eksploitasi sumber daya alam tanpa pengawasan, termasuk rare earth elements yang digunakan dalam ponsel pintar, turbin angin, dan kendaraan listrik. “Konflik, tata kelola yang terfragmentasi, dan pasar global bertemu untuk mendorong ekstraksi dengan mengorbankan integritas lingkungan dan keamanan manusia,” demikian laporan think tank Stimson Center pada Mei lalu.
Peneliti dari Universitas Chiang Mai menemukan kadar arsenik 10 kali lebih tinggi dari normal di sedimen Sungai Kok, anak sungai Mekong. Asisten Profesor Wan Wiriya menyebut situasi ini sebagai “bom waktu” yang meningkatkan risiko kanker dan gangguan neurologis jangka panjang, terutama bagi kelompok rentan. “Kami tidak lagi melihat anak-anak bermain di air. Tidak ada burung, tidak ada kupu-kupu. Airnya sudah mati. Jika air mati, bagaimana dengan manusia?” ujar Sansoen Duangdee, seniman berusia 69 tahun yang ikut dalam aksi protes para biksu Buddha di sepanjang sungai yang tercemar.
Bagi Indonesia, krisis ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap pencemaran lintas batas. Sungai-sungai di Kalimantan dan Sumatra, misalnya, juga menghadapi ancaman dari tambang ilegal dan limbah industri. Jika tidak ada pengawasan ketat, nasib serupa bisa menimpa masyarakat yang bergantung pada sungai untuk kehidupan sehari-hari. “Ketika tercemar logam berat dan racun lainnya, mereka mengalir hingga ke delta Mekong, mengancam kawasan penghasil beras penting di Vietnam,” kata Pianporn Deetes dari kelompok kampanye Rivers and Rights.
Meski otoritas setempat menyarankan untuk tidak mengonsumsi kerang atau jeroan ikan dari sungai, banyak warga tidak punya pilihan lain. Buakhlee Srisawat, penjual ikan di Chiang Saen, mengklaim dagangannya aman karena telah diperiksa berbagai lembaga. Namun, Somdet tetap menjalani hidup seperti biasa: “Tidak ada yang bisa kami lakukan. Kami harus hidup dengan sungai ini, apa pun yang terjadi. Sungai itu seperti kehidupan itu sendiri—jika bisa menangis, ia pasti sudah menangis sekarang.”
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara di kawasan Mekong mampu bekerja sama menghentikan tambang ilegal di Myanmar, ataukah bom waktu arsenik ini akan meledak dengan konsekuensi yang lebih mengerikan bagi kesehatan dan ekosistem regional.



