Jakarta Pagi Ini: Kualitas Udara Memburuk, Pemprov Siapkan Tiga Jurus
Baca dalam 60 detik
- Indeks kualitas udara Jakarta pagi ini mencapai 175, masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat kedua terburuk di dunia.
- Pemerintah provinsi mengandalkan perluasan transportasi publik, elektrifikasi bus, dan pengelolaan sampah sebagai strategi utama menekan polusi.
- Target 10.000 bus listrik pada 2030 diharapkan mampu memangkas separuh emisi dari sektor transportasi yang saat ini dominan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5222523/original/087946000_1747400362-20250516-Kemacetan-ANG_8.jpg)
Indeks kualitas udara Jakarta pada Rabu pagi (17/6/2026) menunjukkan angka 175, menjadikannya kota dengan polusi terparah kedua di dunia setelah Lahore, Pakistan yang mencapai 382. Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat 88,5 mikrogram per meter kubikโjauh di atas ambang aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang hanya 15 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini memicu imbauan bagi warga untuk mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker jika terpaksa keluar rumah.
Data dari IQAir menempatkan Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) di urutan ketiga dengan AQI 163, disusul Santiago (Chili) dengan 153. Posisi Jakarta yang memburuk ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah yang tengah berupaya menekan polusi melalui tiga strategi utama: perluasan transportasi umum, elektrifikasi bus, dan pengolahan sampah.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa sektor transportasi menyumbang 50 persen emisi gas buang di ibu kota. Oleh karena itu, perluasan jangkauan Transjabodetabek menjadi prioritas, termasuk rute baru Blok M-Bandara Soekarno-Hatta, Blok M-Alam Sutera, dan Blok M-PIK 2. Saat ini konektivitas transportasi Jakarta telah mencapai 92 persen, menempatkannya di peringkat 17 dunia dan kedua di ASEAN setelah Singapura.
Pramono menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030 sebagai langkah signifikan mengurangi emisi. "Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," ujarnya dalam acara Townhall Meeting di M Bloc, Kebayoran Baru. Selain itu, Pemprov DKI telah menerbitkan aturan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat untuk mendorong peralihan dari kendaraan pribadi.
Di luar transportasi, sektor pengelolaan sampah juga menjadi fokus. Pembangunan fasilitas Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat dipercepat dan ditargetkan beroperasi pada pertengahan 2026. Pramono menambahkan bahwa pengolahan sampah yang lebih baik akan turut menurunkan emisi dari pembakaran terbuka dan dekomposisi limbah.
Bagi warga Jakarta, memburuknya kualitas udara bukan sekadar angkaโini soal kesehatan jangka panjang. Paparan PM2.5 yang tinggi dikaitkan dengan penyakit pernapasan, kardiovaskular, dan penurunan harapan hidup. Meski pemerintah telah menyiapkan peta jalan, efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan realisasi proyek dan partisipasi publik dalam beralih ke transportasi ramah lingkungan.
Pertanyaan yang tersisa: akankah target ambisius 10.000 bus listrik dan pengelolaan sampah terpadu mampu mengembalikan Jakarta ke level udara sehat dalam lima tahun ke depan? Ataukah ibu kota akan terus bergulat dengan polusi yang semakin akut?



