Samurai Blue Siap Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026: Modal Pemain Eropa dan Ambisi Besar
Baca dalam 60 detik
- Jepang diperkuat 23 pemain yang berlaga di Eropa, menjadikan skuad paling matang dan berpengalaman dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
- Kehilangan bintang seperti Kaoru Mitoma, Takumi Minamino, dan kapten Wataru Endo menjadi ujian kedalaman tim, namun pelapis seperti Takefusa Kubo dan Ayase Ueda siap tampil.
- Target minimal lolos dari grup yang berisi Belanda, Swedia, dan Tunisia; jika berhasil, peluang menembus perempat final terbuka lebar.
Jepang belum pernah menembus babak perempat final Piala Dunia, tetapi kombinasi skuad bertabur pemain Eropa, kematangan taktik pelatih Hajime Moriyasu, serta rentetan hasil positif melawan tim-tim elite membuat keyakinan publik Negeri Sakura mencapai titik tertinggi menjelang turnamen 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Hanya tiga dari 26 pemain yang dipanggil Moriyasu berasal dari kompetisi domestik J1 League; sisanya berkarir di Eropa, mulai dari Premier League, La Liga, Bundesliga, hingga Eredivisie. Keunggulan ini dinilai sebagai pembeda dibanding edisi-edisi sebelumnya. “Mereka tidak lagi gentar. Dua atau tiga Piala Dunia lalu, mereka tidak punya pengalaman Eropa sebanyak ini,” ujar Kyoga Nakamura, gelandang Lion City Sailors yang pernah membela Jepang di Piala Dunia U-17 2013.
Jepang tergabung di Grup D bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. Laga perdana melawan Belanda pada 14 Juni di AT&T Stadium, Arlington, Texas, akan menjadi ujian awal seberapa jauh kesiapan tim asuhan Moriyasu. Dalam 12 bulan terakhir, Samurai Blue sukses mengalahkan Brasil dan Inggris di laga uji coba, serta tak terkalahkan dalam tujuh pertandingan terakhir. Kekalahan terakhir terjadi pada September 2025 saat Moriyasu merotasi hampir seluruh pemain inti melawan Amerika Serikat.
Namun, persiapan Jepang tidak mulus. Gelandang Brighton Kaoru Mitoma dan penyerang Monaco Takumi Minamino dipastikan absen karena cedera. Yang lebih mengejutkan, kapten Wataru Endo mundur dari turnamen hanya beberapa hari sebelum laga pembuka dan memutuskan pensiun dari tim nasional. Borussia Mönchengladbach striker Shuto Machino dipanggil sebagai pengganti, sementara ban kapten diberikan kepada Ko Itakura. “Ini bukan kabar ideal, tetapi lebih baik terjadi sekarang daripada saat turnamen berjalan,” komentar Dan Orlowitz, jurnalis yang meliput sepak bola Jepang selama lebih dari satu dekade.
Menurut Orlowitz, kedalaman skuad menjadi kunci. “Jepang tidak bergantung pada satu pemain bintang. Tidak ada Messi, Ronaldo, atau Neymar. Tim ini justru terbaik saat bekerja sebagai satu kesatuan.” Real Sociedad playmaker Takefusa Kubo, penyerang Celtic Daizen Maeda, dan topskor Eredivisie Ayase Ueda menjadi andalan di lini depan. Sementara di lini tengah, Moriyasu percaya bahwa bek-bek yang memiliki pengalaman bermain sebagai gelandang bisa menutup celah yang ditinggalkan Endo.
Pelajaran pahit dari Piala Dunia 2022 menjadi modal berharga. Saat itu Jepang mengejutkan Jerman dan Spanyol di fase grup, namun tersingkir di babak 16 besar setelah kalah adu penalti dari Kroasia. “Moriyasu layak dikritik karena tidak menyiapkan rencana untuk adu penalti. Begitu sampai di situ, mereka kebingungan,” ujar Orlowitz. “Saya yakin dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Jepang selalu menjadi tolok ukur kebangkitan Asia. Keberhasilan Samurai Blue menembus perempat final akan menjadi sinyal bahwa sepak bola Asia mampu bersaing dengan elit global. Apalagi, Indonesia sendiri tengah giat membangun infrastruktur dan pembinaan usia muda. Jika Jepang yang hanya mengandalkan tiga pemain lokal bisa tampil kompetitif, bukan tidak mungkin Indonesia kelak mengikuti jejak serupa.
Lolos dari grup adalah “target minimal” menurut Orlowitz. Jika berhasil, lawan potensial di babak 16 besar adalah Brasil atau Maroko. “Babak 32 besar adalah ladang ranjau. Jika mereka bisa melewatinya, langit adalah batasnya,” tambahnya. Keiji Shigetomi, direktur teknis Albirex Niigata Singapura, menambahkan: “Kunci bukan hanya lolos grup, tetapi tiba di babak gugur dengan kepercayaan diri dan momentum. Perempat final adalah target realistis. Begitu sampai di sana, apa pun bisa terjadi.”