Panama Tak Sekadar Pelengkap: Godoy Siap Bawa Kemenangan Perdana di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Panama bertekad meraih kemenangan pertama dalam sejarah Piala Dunia saat menghadapi Ghana di laga kedua Grup L.
- Di bawah asuhan Thomas Christiansen, peringkat FIFA Panama melonjak dari 81 ke 34 sejak 2020, menunjukkan progres signifikan.
- Kapten Anibal Godoy menjadikan turnamen ini sebagai panggung pamungkas, dengan semangat juang tinggi meski timnya dihuni pemain belum fit.
Panama tidak datang ke Piala Dunia 2026 hanya untuk menjadi penonton. Kapten tim, Anibal Godoy, menegaskan bahwa skuad asuhan Thomas Christiansen memiliki ambisi besar: merebut kemenangan perdana mereka di ajang sepak bola tertinggi dunia. Target itu akan diuji saat berhadapan dengan Ghana yang sarat pengalaman dalam laga Grup L, Rabu (19/6) waktu setempat.
"Kami di sini untuk bersaing. Bukan sekadar ikut serta, kami terdorong karena menginginkan lebih," ujar Godoy melalui penerjemah di Toronto, seperti dikutip media setempat. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Panama, satu-satunya wakil Amerika Tengah di turnamen ini, tidak berniat pulang lebih awal.
Ini merupakan penampilan kedua Panama di Piala Dunia setelah debut mereka pada 2018 di Rusia. Namun, perjalanan kali ini terasa berbeda. Di bawah pelatih asal Denmark, Thomas Christiansen, yang mengambil alih kursi kepelatihan pada 2020, Los Canaleros menunjukkan peningkatan luar biasa. Peringkat FIFA mereka meroket dari posisi 81 ke 34, bukti nyata transformasi permainan.
Meski demikian, tantangan berat menanti. Grup L juga dihuni Inggris dan Kroasia, dua tim raksasa Eropa. Christiansen mengakui tidak ada laga mudah di turnamen ini. "Kami telah melihat pertandingan-pertandingan di Piala Dunia ini, semuanya sangat ketat. Anda tidak bisa mengatakan satu tim lebih lemah dari yang lain," katanya.
Namun, Christiansen optimistis timnya bisa meraih kemenangan meski harus menghadapi Ghana yang tangguh. Ia juga mengonfirmasi bahwa gelandang bintang Adalberto Carrasquilla belum pulih seratus persen dan akan memulai laga dari bangku cadangan. "Dia akan ada di bangku cadangan, dan kami akan melihat bagaimana pertandingan berkembang besok," ujar pelatih berusia 53 tahun itu.
Bagi Indonesia, perjuangan Panama menjadi cermin bagaimana tim non-unggulan bisa bersaing di panggung global. Dengan populasi sekitar 4,3 juta jiwa, Panama membuktikan bahwa pengembangan sepak bola yang konsisten mampu mendongkrak performa. Pelajaran ini relevan bagi Indonesia yang tengah membangun fondasi sepak bola nasional, terutama dalam hal pembinaan pemain muda dan peningkatan kualitas liga.
Godoy, yang akan menjalani Piala Dunia terakhirnya, bertekad memberikan segalanya. "Kami akan menjalani pertandingan demi pertandingan, dan saya akan memberikan yang terbaik yang saya bisa," katanya. Semangat itu diharapkan menular ke seluruh skuad, yang siap berjuang keras melawan tim-tim besar.
Pertanyaan besarnya: mampukah Panama menorehkan sejarah dengan kemenangan perdana, atau akankah Ghana yang lebih berpengalaman menjadi batu sandungan? Laga ini akan menjadi ujian nyata bagi ambisi Los Canaleros.



