Ribuan Pelayat Berkabung di Bangkok: Sang Putri Kembali ke Istana
Baca dalam 60 detik
- Putri Bajrakitiyabha, putri sulung Raja Thailand, meninggal pada usia 47 tahun setelah tiga tahun koma akibat penyakit jantung.
- Ribuan pelayat berbaju hitam berkumpul di Istana Kerajaan Bangkok untuk mengantarkan jenazah sang putri, mencerminkan ikatan kuat rakyat dengan monarki.
- Prosesi pemakaman dilakukan dengan protokol ketat dan pengamanan tinggi, mengingatkan pada upacara pemakaman Raja Bhumibol Adulyadej pada 2016.

Ribuan pelayat berbaju hitam memadati kawasan Istana Kerajaan di Bangkok, menanti kedatangan jenazah putri sulung Raja Thailand yang wafat sehari sebelumnya. Kepergian Putri Bajrakitiyabha, atau yang akrab disapa Putri Bha, meninggalkan duka mendalam di kalangan masyarakat yang memandang monarki sebagai simbol persatuan bangsa.
Putri Bha, yang berusia 47 tahun, mengembuskan napas terakhir pada Kamis lalu setelah menjalani perawatan intensif selama lebih dari tiga tahun dalam kondisi koma akibat gangguan jantung. Pengumuman resmi dari Istana menyebutkan bahwa sang putri menderita aritmia jantung yang menyebabkan kerusakan otak permanen sejak akhir 2022.
Sejak pagi, para pelayat dari berbagai penjuru negeri berdatangan. Donnapha Kladbupha, seorang guru bahasa Inggris berusia 54 tahun yang mengaku sebagai pendukung setia kerajaan, menyatakan akan menunggu seharian penuh untuk memberi penghormatan terakhir. "Ketika harus mengucapkan selamat tinggal, itu tidak mudah bagi kami," ujarnya. Ia bergabung dengan sekitar 20 anggota kelompok royalis daring yang sengaja datang untuk "memberi dukungan kepada rajaku".
Suasana haru juga terlihat di area ritual, di mana para pelayat mengantre untuk melakukan upacara Buddha menuangkan air suci ke dalam mangkuk seremonial yang diletakkan di depan potret sang putri. Nitikan Tephakham, 79 tahun, seorang pensiunan dari Provinsi Roi Et di timur laut Thailand, mengaku sangat sedih. "Ketika dia sakit, saya berdoa kepada makhluk suci untuk melindunginya dan berharap ada keajaiban," katanya.
Jenazah Putri Bha dipindahkan dari Rumah Sakit Chulalongkorn, tempat ia dirawat, menuju Istana Agung pada Jumat sore. Prosesi ini merupakan prosedur adat bagi anggota keluarga kerajaan yang wafat. Langkah yang sama pernah dilakukan ketika Raja Bhumibol Adulyadej wafat pada Oktober 2016, di mana jenazahnya disemayamkan di Istana Agung sebelum menjalani upacara kremasi kerajaan yang megah setahun kemudian.
Prosesi pemakaman kali ini berlangsung di bawah pengamanan ketat dan protokol yang sangat formal. Para petugas mengenakan pakaian resmi, akses media dibatasi, dan puluhan aparat kepolisian berjaga di sekitar lokasi. Wisatawan asing yang kebetulan berada di kompleks istana, salah satu objek wisata paling populer di Bangkok, juga harus mencari jalan alternatif. "Ini sesuatu yang unik, bahwa seseorang bisa begitu dicintai," ujar Maria Marcais, seorang turis asal Kanada berusia 22 tahun.
Bagi Indonesia, peristiwa ini mengingatkan pada kuatnya ikatan emosional antara rakyat dan institusi monarki di negara tetangga. Thailand, sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia di ASEAN, kerap menunjukkan stabilitas politik yang erat kaitannya dengan peran kerajaan. Kepergian Putri Bha, yang juga dikenal sebagai diplomat dan jaksa, menimbulkan pertanyaan tentang suksesi dan masa depan monarki Thailand di tengah usia Raja Maha Vajiralongkorn yang sudah lanjut.
Ke depan, prosesi pemakaman Putri Bha diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari hingga pekan ke depan, mengikuti tradisi kerajaan yang panjang. Pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana duka nasional ini akan memengaruhi dinamika politik Thailand yang tengah berada dalam masa transisi, serta apakah monarki mampu mempertahankan pengaruhnya di tengah generasi muda yang semakin kritis.



