Guncangan 6,7 SR di Sulawesi: Trauma 2018 Kembali Menghantui Warga Palu
Baca dalam 60 detik
- Gempa 6,7 magnitudo mengguncang Sulawesi Tengah, memicu kepanikan massal di Palu yang masih diliputi trauma bencana 2018.
- Ratusan pasien rumah sakit dievakuasi, warga mengungsi ke tempat terbuka, namun BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami.
- Peristiwa ini menjadi pengingat kerentanan Indonesia sebagai negara rawan gempa, dengan risiko gempa susulan masih mengancam.

Gempa bumi berkekuatan 6,7 skala Richter yang berpusat di darat Sulawesi Tengah, Senin (17/6), memicu kepanikan massal di Kota Palu dan sekitarnya. Guncangan keras yang berlangsung beberapa detik itu langsung membangkitkan kembali trauma kolektif warga terhadap gempa dan tsunami dahsyat yang meluluhlantakkan kota tersebut pada 2018 lalu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan episenter gempa berada 43 kilometer timur-tenggara Palu dengan kedalaman 10 kilometer. Meski tidak berpotensi tsunami, warga tetap memilih mengungsi ke dataran tinggi sebagai langkah antisipasi. Beberapa rumah sakit terpaksa mengevakuasi pasien ke luar gedung, termasuk mereka yang masih terpasang infus, demi menghindari risiko reruntuhan.
โGuncangannya sangat kuat. Kami masih trauma dengan gempa sebelumnya, jadi kami memilih tetap di luar karena takut gempa susulan,โ ujar Muhtar Ahmad, warga Palu, kepada kantor berita Associated Press. Pernyataan serupa disampaikan Effendi Natali, manajer umum sebuah hotel berbintang empat di Palu, yang mengaku telah mengevakuasi seluruh tamu. โMereka semua panik, itu reaksi wajar saat gempa, tapi semua selamat,โ katanya.
Gempa susulan berkekuatan hingga 5,2 magnitudo masih terus terjadi hingga beberapa jam setelah guncangan utama. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat merusak bangunan yang sudah rapuh. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih mengumpulkan data terkait jumlah korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan warga yang mengungsi.
Bagi warga Sulawesi, gempa ini membawa kembali kenangan kelam bencana 28 September 2018. Saat itu, gempa 7,5 SR disusul tsunami setinggi 3 meter dan fenomena likuifaksi yang menelan lebih dari 4.000 jiwa. Ratusan rumah ambles ke dalam tanah, menjadikannya salah satu bencana seismik paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Trauma serupa juga muncul saat gempa 6,2 SR di Mamuju pada Januari 2021 yang menewaskan sedikitnya 100 orang.
Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, jalur pertemuan lempeng tektonik yang menjadikannya salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Namun, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pertanyaannya, akankah setiap guncangan baru hanya menjadi pengulangan siklus panik dan trauma, atau justru menjadi momentum untuk memperkuat sistem peringatan dini dan tata ruang yang lebih aman?



