Eufória Skotlandia: 28 Tahun Penantian Berakhir, Gelora Piala Dunia 2026 Mengguncang Negeri
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia lolos ke Piala Dunia 2026 setelah absen 28 tahun, memicu euforia nasional yang melampaui turnamen sebelumnya.
- Penjualan jersey timnas Skotlandia melonjak dua kali lipat dibanding Euro 2024, menjadikannya produk terlaris di Inggris dan AS.
- Pertandingan perdana melawan Haiti pada dini hari nanti diperkirakan akan disaksikan oleh jutaan pasang mata, dari pub hingga arena raksasa.

Setelah 28 tahun menanti, Skotlandia akhirnya kembali ke panggung Piala Dunia. Euforia yang melanda negeri itu bukan sekadar kegembiraan biasa—ini adalah luapan emosi yang terpendam sejak era 1990-an, ketika timnas pria terakhir kali tampil di Prancis 1998. Kini, saat skuad asuhan Steve Clarke bersiap menghadapi Haiti pada laga perdana Grup C, gelora itu telah merasuk ke setiap sudut kehidupan masyarakat Skotlandia.
Kemenangan dramatis 4-2 atas Denmark pada November lalu menjadi tiket emas yang membuka kembali pintu mimpi yang sempat terkubur. Bagi generasi yang lahir setelah 1998, ini adalah pengalaman pertama menyaksikan timnas mereka berlaga di turnamen sepak bola terbesar dunia. Anak-anak sekolah, yang selama ini hanya mendengar cerita dari orang tua mereka, kini bisa merasakan sendiri atmosfer Piala Dunia. Lucy McEwan, seorang guru di Glasgow, menceritakan bagaimana murid-muridnya begitu antusias mengoleksi stiker Panini FIFA dan bertukar stiker dengan guru. "Departemen kami bahkan membeli buku stiker resmi tahun ini, dan semua anak datang sambil membawa stiker untuk ditukar," ujarnya.
Euforia ini tidak hanya terasa di sekolah. Di seluruh pelosok Skotlandia, dari toko ikan dan kentang goreng hingga salon rambut, bendera Saltire berkibar dengan bangga. Di Dumfries, bank-bank memasang bola sepak tiup di dinding ATM, sementara Bear Scotland—badan pengelola jalan raya—menamai salah satu alat penyebar garam mereka "Snow Scotland Snow Party", lengkap dengan kostum beruang kutub berkilt. Pemerintah daerah pun ikut merayakan: East Renfrewshire Council mengubah namanya menjadi East Robbo-shire Council untuk menghormati kapten tim, Andy Robertson, yang berasal dari daerah tersebut.
Antusiasme juga tercermin dari lonjakan penjualan perlengkapan tim. JD Sports melaporkan penjualan jersey Skotlandia dua kali lipat lebih banyak dibandingkan saat Euro 2024. Jersey tersebut kini menjadi produk terlaris di Inggris dan Amerika Serikat. Toko pop-up resmi bermunculan di Glasgow, Edinburgh, dan Stirling, dengan kaos retro dan kaus bertuliskan "We'll Be Coming 26" menjadi primadona. Bagi para penggemar yang tidak bisa terbang ke Amerika, pub-pub dan arena seperti SWG3 di Glasgow serta Beach Ballroom di Aberdeen menyelenggarakan pesta nonton bersama. OVO Hydro, arena terbesar di Skotlandia, bahkan memasang layar raksasa untuk menampung ribuan pendukung. "Kami sudah menunggu hampir 30 tahun, dan kami ingin menempatkan tim di panggung kami untuk para penggemar yang tidak bisa menyeberangi Atlantik," kata Debbie McWilliams, kepala komersial OVO Hydro.
Bagi penggemar yang masih ingat kegagalan demi kegagalan di masa lalu, perasaan campur aduk tak terhindarkan. Graeme McNay, yang berusia 18 tahun saat Prancis 1998, mengaku dulu menganggap remeh partisipasi Skotlandia di Piala Dunia. "Saya pikir pasti akan pergi empat tahun kemudian, atau setelahnya. Saya tidak menyangka harus menunggu 28 tahun lagi!" kenangnya. Kini, ia terbang ke Boston bersama teman-temannya untuk mendukung langsung tim kesayangannya. Namun, kenangan pahit seperti kekalahan 1-0 dari Kosta Rika pada 1990 membuatnya waspada. "Saya agak pesimis, khawatir kita tersandung lawan Haiti. Ini selalu menjadi jebakan," katanya.
Di sisi lain, optimisme juga menguat. Seorang pekerja di toko pop-up Glasgow bercerita tentang orang tua yang mengatakan anak kecil mereka "sudah terbiasa melihat Skotlandia menang"—sebuah perubahan besar dari masa-masa kelam selama 28 tahun. Mural tendangan salto Scott McTominay yang membuka skor melawan Denmark menghiasi dinding dekat Stadion Hampden, menjadi pengingat akan momen bersejarah itu. Lindsay Hamilton, pemandu wisata di sekitar stadion, melihat perubahan nyata dalam beberapa pekan terakhir. "Ada begitu banyak gairah seputar Piala Dunia, orang-orang berbagi prediksi dan cerita pribadi tentang kegagalan masa lalu," ujarnya.
Bagi Indonesia, euforia Skotlandia ini menjadi cermin bagaimana sepak bola mampu menyatukan sebuah bangsa. Meski Timnas Indonesia belum pernah merasakan Piala Dunia, semangat serupa terlihat saat Garuda berlaga di Piala Asia atau SEA Games. Antusiasme masyarakat Skotlandia—dari anak sekolah hingga kakek-nenek—menunjukkan bahwa sepak bola lebih dari sekadar olahraga; ia adalah identitas dan kebanggaan kolektif. Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia suatu hari nanti mengalami momen serupa? Jawabannya mungkin masih jauh, tetapi gelora Skotlandia hari ini bisa menjadi inspirasi bahwa penantian panjang pada akhirnya akan terbayar.



