Marcos Santos Bertahan di Arena Meski Gagal Target: Fondasi Tim Lebih Penting
Baca dalam 60 detik
- Arema FC mempertahankan Marcos Santos sebagai pelatih meski finis di peringkat 9, melanggar tradisi klub yang kerap memecat pelatih.
- Manajemen menilai Santos berhasil membangun keharmonisan internal tim tanpa konflik sepanjang musim, menjadi faktor utama perpanjangan kontrak.
- Santos kini aktif merombak skuad dengan melepas 14 pemain dan menargetkan perubahan 50 persen komposisi tim untuk musim depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429535/original/006642200_1764596719-marcos_2.jpg)
Arema FC mengambil keputusan yang tidak biasa di kancah sepak bola Indonesia: mempertahankan pelatih yang gagal memenuhi target. Marcos Santos, arsitek asal Brasil, tetap mendapat perpanjangan kontrak meski Singo Edan hanya mampu finis di urutan kesembilan BRI Super League 2025/2026, jauh dari target awal finis lima besar. Keputusan ini menjadi sinyal perubahan budaya manajemen klub yang selama ini dikenal cepat memecat pelatih.
Manajemen Arema, melalui General Manager Yusrinal Fitriandi, mengungkapkan alasan di balik keputusan tersebut. “Kami melihat ada fondasi yang sudah dibangun dan perlu dilanjutkan agar proses pengembangan tim berjalan lebih baik,” ujarnya. Fondasi yang dimaksud bukanlah prestasi instan, melainkan stabilitas internal tim. Santos dinilai berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif, tanpa konflik berarti sepanjang musim—sebuah pencapaian yang langka di klub yang kerap dihantam gejolak internal.
Keputusan ini mematahkan tradisi Arema yang sering berganti pelatih di tengah atau akhir musim. Santos menjadi pelatih asing kedua dalam sejarah klub yang mendapat perpanjangan kontrak setelah Eduardo Almeida. Namun, Almeida dipertahankan setelah membawa Arema finis di peringkat keempat pada 2022, sementara Santos justru gagal di Piala Presiden dan kompetisi liga. Manajemen menilai bahwa pergantian pelatih yang terlalu sering justru tidak membawa perbaikan signifikan. “Coach Marcos mampu menyelesaikan persoalan itu,” tegas Inal.
Di tengah sorotan suporter yang sempat meminta pergantian pelatih, manajemen Arema justru mengambil langkah kontroversial. Inal menjelaskan bahwa stabilitas tim menjadi prioritas. “Selama beberapa musim terakhir, kami cukup sering berganti pelatih. Coach Marcos mampu mengayomi pemain dan menjaga tim tetap kondusif. Itu menjadi nilai penting dalam evaluasi kami,” katanya. Santos, yang kini berada di Brasil, tetap aktif berkomunikasi dengan manajemen untuk membentuk tim musim depan, termasuk menentukan pemain yang dipertahankan atau dilepas.
Keputusan ini memiliki implikasi lebih luas bagi sepak bola Indonesia, di mana budaya instan sering mendominasi. Arema mencoba membangun proyek jangka panjang dengan memberikan kepercayaan penuh kepada pelatih yang sudah memahami kompetisi lokal. “Dia sudah memahami kompetisi di Indonesia. Jadi, sudah tahu kebutuhan pemain dengan karakter seperti apa yang cocok,” pungkas Inal. Dengan 14 pemain sudah dilepas dan rencana perombakan besar-besaran, musim depan akan menjadi ujian apakah kesabaran manajemen berbuah prestasi atau justru kembali menuai kritik.



