Nama Trump Dihapus dari Fasad Kennedy Center: Akhir dari Babak Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan federal memerintahkan penghapusan papan nama Donald Trump dari Gedung Kennedy Center, dan lembaga seni pertunjukan itu telah mematuhinya pada Sabtu (14/6).
- Keputusan ini mengakhiri upaya Trump yang mengambil alih pimpinan pusat seni tersebut pada 2025 dan mengganti namanya, namun langkah itu digugat oleh anggota dewan.
- Meski nama Trump dihapus, ia tetap melanjutkan proyek ambisius di Washington, termasuk renovasi Gedung Putih dan pembangunan lengkungan kemenangan.

Papan nama yang menempel di fasad Kennedy Center, yang sempat diubah menjadi 'Trump Kennedy Center', akhirnya diturunkan pada Sabtu (14/6) waktu setempat. Langkah ini merupakan eksekusi dari putusan pengadilan federal yang memenangkan gugatan anggota dewan yang menolak pengambilalihan pusat seni pertunjukan oleh Presiden Donald Trump.
Matt Floca, direktur eksekutif dan chief operating officer Kennedy Center, dalam pernyataan resmi menyatakan bahwa seluruh papan nama yang merujuk pada Trump telah dicopot dari gedung dan area sekitarnya, termasuk di serambi depan. Namun, bagi pengunjung yang berkumpul di plaza depan pusat seni itu, proses penghapusan nyaris tak terlihat karena tertutup terpal yang menggantung di perancah. Seorang wartawan yang mengintip celah kecil terpal memastikan bahwa huruf-huruf nama Trump sudah tidak lagi menempel di dinding.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Trump, yang pada Januari 2025, tak lama setelah kembali menjabat, melakukan kudeta kepemimpinan di Kennedy Center. Ia mengganti jajaran direksi dengan dewan yang setia kepadanya dan mengangkat dirinya sebagai ketua. Nama Trump segera dipasang di gedung yang sejak 1964 didedikasikan untuk mengenang Presiden John F. Kennedy itu. Langkah ini memicu reaksi keras dari kalangan seni dan politik, terutama dari anggota parlemen Partai Demokrat.
Anggota DPR dari Ohio, Joyce Beatty, yang menjadi penggugat utama dalam kasus ini, merayakan kemenangan tersebut. "Hari ini adalah awal dari mengembalikan Kennedy Center kepada rakyat Amerika. Aturan hukum menang, dan itu patut dirayakan," ujarnya dalam pernyataan resmi. Beatty bahkan mengunggah video dirinya menari 'Trump dance' di aula utama Kennedy Center. Seorang warga Virginia, Leo Bartholomaus, juga mengaku lega. "Nenek saya sangat mencintai seni. Saya pikir lebih baik sebagai Kennedy Center," katanya.
Penghapusan nama Trump ini menutup salah satu babak paling tidak biasa dalam sejarah Kennedy Center, yang biasanya menjadi ruang nonpartisan di Washington. Namun, Trump tak tinggal diam. Ia tengah melanjutkan proyek ambisius untuk mengubah lanskap fisik ibu kota AS. Ia telah merobohkan Sayap Timur Gedung Putih dan membangun ballroom kontroversial sebagai gantinya. Ia juga merenovasi Kolam Refleksi Lincoln Memorial dan berencana memperluas lapangan golf di East Potomac Park, yang dikhawatirkan mengurangi akses publik ke jalur lari dan sepeda. Tak hanya itu, Trump juga mendorong pembangunan lengkungan kemenangan di dekat Pemakaman Arlington, Virginia.
Ironisnya, saat nama Trump dicopot dari Kennedy Center, Halaman Selatan Gedung Putih justru disulap menjadi arena UFC untuk merayakan HUT ke-250 kemerdekaan AS yang juga bertepatan dengan ulang tahun Trump pada Minggu (15/6).
Masa depan Kennedy Center sendiri masih diselimuti ketidakpastian. Putusan pengadilan yang sama juga memblokir rencana penutupan dua tahun untuk renovasi yang sedianya dimulai bulan depan. Kalender pertunjukan masih terisi hingga akhir Juni, termasuk pementasan Moulin Rouge! The Musical dan Bluey's Big Play, serta penganugerahan Mark Twain Prize kepada komedian Bill Maher pada 28 Juni. Namun, setelah itu, jadwal nyaris kosong. Trump, yang murka atas perintah pengadilan, mengancam akan menyerahkan Kennedy Center kepada Kongres atau bahkan menutupnya dengan alasan keselamatan publik.
Dalam upaya banding yang gagal, pengelola Kennedy Center berargumen bahwa pengadilan menghalangi renovasi mendesak, termasuk perbaikan struktural yang disebut 'mengancam jiwa'. Mereka bahkan menyebut kemungkinan 'keruntuhan total'. Pihak pengelola juga menyiratkan bahwa nama Trump bisa kembali terpasang jika mereka menang banding. Pertanyaannya, mampukah Kennedy Center bertahan di tengah tekanan politik dan finansial yang semakin besar?



