G7 di Prancis: Trump Dukung Perdamaian Ukraina, Eropa Optimistis
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan Trump-Zelenskyy di KTT G7 menghasilkan pernyataan AS bahwa Rusia harus berdamai, memicu optimisme terbatas di kalangan pemimpin Eropa.
- Zelenskyy memanfaatkan keberhasilan serangan drone Ukraina ke Rusia untuk membuktikan perubahan momentum perang, namun Trump belum berkomitmen pada sanksi baru.
- Kesepakatan sementara AS-Iran turut mewarnai KTT, dengan Eropa khawatir negosiasi nuklir berikutnya akan lemah tanpa pengalaman tim AS.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Rusia harus mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina, setelah pertemuan bilateral dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy di sela-sela KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, pada Selasa (16/6), langsung menyulut optimisme hati-hati di antara para pemimpin Eropa. Suasana ini kontras dengan pertemuan setahun lalu di Oval Office, ketika Trump menilai Zelenskyy tidak memiliki pengaruh dalam perundingan.
Zelenskyy dan sekutu Eropanya datang ke KTT tahun ini dengan misi meyakinkan Trump bahwa medan perang telah berubah. Serangan drone Ukraina yang menembus jauh ke wilayah Rusia menjadi bukti utama yang mereka sodorkan. Dalam pertemuan tertutup, Zelenskyy bahkan menunjukkan foto-foto dampak serangan rudal Rusia di Biara Pechersk Lavra, Kyiv, yang terjadi sehari sebelumnya. Trump disebut menyatakan ketidaksetujuannya atas serangan tersebut, dan para diplomat Eropa menilai langkah itu “psikologis” efektif.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyambut positif pernyataan Trump. “Saya melihatnya sangat kooperatif dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ini memberi saya optimisme bahwa kami, Eropa dan Amerika, akan melakukan segalanya bersama untuk mengakhiri perang,” ujarnya. Namun, optimisme itu belum dibarengi komitmen konkret. Dua diplomat Eropa mengungkapkan bahwa Trump masih belum memberikan jawaban tegas terkait sanksi baru AS terhadap Moskow, yang sangat diinginkan Eropa.
Di sisi lain, KTT G7 juga diwarnai kesepakatan sementara AS dengan Iran yang baru saja diraih Trump. Kesepakatan itu disebut membuka jendela 60 hari untuk negosiasi teknis yang rumit, termasuk nasib stok uranium yang diperkaya tinggi dan pencabutan sanksi internasional. Namun, sekutu Eropa khawatir tim negosiasi AS yang kurang pengalaman akan gagal mengamankan perjanjian nuklir yang kokoh atau mengatasi program rudal balistik Iran, sehingga berpotensi menimbulkan kebuntuan berkepanjangan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan perlunya “kesepakatan yang solid, serius, dan final”. Sementara itu, makan siang kerja pada Selasa difokuskan pada pembukaan kembali Selat Hormuz yang ditutup Iran sejak akhir Februari. Trump menyatakan selat itu akan “terbuka penuh” pada Jumat mendatang. Para pemimpin juga mencari rute alternatif untuk membypass jalur air strategis tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika KTT G7 ini memiliki implikasi tidak langsung. Ketidakpastian penyelesaian konflik Ukraina-Rusia berpotensi mempengaruhi harga energi global dan stabilitas rantai pasok, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor gandum dan energi. Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz dapat mengancam keamanan jalur minyak yang juga dilalui oleh kapal-kapal Indonesia. Sikap non-blok Indonesia yang konsisten mendorong diplomasi damai menjadi semakin relevan di tengah polarisasi kekuatan besar.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah Trump akan benar-benar meningkatkan tekanan pada Rusia melalui sanksi, atau justru mengambil pendekatan yang lebih lunak seperti yang dikhawatirkan Eropa. Dengan masa jabatan Trump yang masih panjang, arah kebijakan luar negeri AS akan sangat menentukan peta konflik Ukraina dan stabilitas kawasan Timur Tengah.



