Orang Tua Virtual di China: Pelarian Generasi Muda dari Tekanan Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Fenomena 'virtual parents' di Douyin menarik jutaan pengikut muda China yang mencari dukungan emosional yang tidak mereka dapatkan dari orang tua kandung.
- Para kreator konten, seperti Pan Huqian dan Zhang Xiuping, menyediakan kata-kata hangat dan penerimaan tanpa syarat, mengisi kekosongan afeksi di tengah tekanan sosial dan ekonomi.
- Tren ini mencerminkan krisis kesehatan mental generasi muda China, yang juga relevan dengan dinamika keluarga di Indonesia akibat tuntutan kesuksesan dan ekspektasi orang tua.

Di sela waktu makan, Vincent Zhang, seorang pekerja teknologi di Shanghai, selalu menyempatkan diri membuka ponsel untuk menyapa "orang tua virtual"-nya. Sepasang suami istri paruh baya di layar itu tak pernah gagal menyapanya dengan hangat, menanyakan kabar, dan mengingatkannya untuk tidak terlalu memaksakan diri. Fenomena ini bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan keresahan generasi muda China yang merasa tercekik antara ambisi pribadi dan ekspektasi keluarga.
Pan Huqian dan Zhang Xiuping, dengan hampir dua juta pengikut di Douyin, adalah pelopor konten "virtual parents". Dalam video-video mereka, pasangan ini berbicara langsung ke kamera seolah-olah kepada anak mereka sendiri. "Kamu lelah bekerja dan belajar akhir-akhir ini? Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Ibu dan Ayah tahu kamu sudah melalui banyak hal," ujar mereka dalam salah satu unggahan populer. Kolom komentar dipenuhi pengguna yang memanggil mereka "Ibu" dan "Ayah", berbagi cerita hidup, bahkan meminta ucapan ulang tahun.
Bagi Vincent, 33 tahun, panggilan telepon mingguan dengan orang tuanya justru menjadi sumber stres. "Mereka tidak pernah mengatakan bahwa saya sudah cukup baik. Yang ada, semua pilihan saya salah dan harus diperbaiki," keluhnya. Orang tua Vincent menganggap pekerjaan di perusahaan swasta tidak stabil dan terus mendorongnya mencari posisi pegawai negeri. Tekanan serupa dialami banyak anak muda China, terutama setelah pandemi, ketika tingkat pengangguran usia muda bertahan di atas 15 persen. Ekonomi yang melambat membuat persaingan semakin ketat, sementara dukungan emosional dari keluarga justru terasa minim.
Frustrasi ini memicu lahirnya meme "gourd soup literature", yang terinspirasi dari sketsa seorang anak yang menolak semangkuk sup labu dari ibunya, namun akhirnya dituduh pemarah. Bagi banyak anak muda, sketsa itu merepresentasikan dinamika rumah tangga di mana keinginan mereka diabaikan atas nama kebaikan. Zhao Xuan, 28 tahun, bahkan mematikan notifikasi grup keluarga setelah terus-menerus menerima nasihat yang tidak diminta. "Saya pernah ke psikolog, tapi akhirnya sadar menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Ibu saya tidak akan berubah, jadi saya hanya bisa mengubah pola pikir saya sendiri, dengan menganggap semuanya sebagai lelucon," ujarnya.
Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia, di mana tekanan untuk sukses dan memenuhi ekspektasi orang tua juga menjadi beban generasi muda. Budaya "sungkan" dan konsep bakti seringkali membuat anak enggan mengungkapkan perasaan mereka. Alih-alih mencari pelarian ke figur virtual, sebagian anak muda Indonesia mulai terbuka dengan isu kesehatan mental, meskipun stigma masih kuat. Kehadiran konten seperti "virtual parents" di platform seperti TikTok Indonesia bisa menjadi indikasi bahwa kebutuhan akan dukungan emosional tanpa syarat juga dirasakan di sini.
Pan Huqian, sang kreator, mengaku memahami penderitaan penontonnya karena ia sendiri tumbuh dalam keluarga yang keras. "Saya meninggalkan rumah pada usia 14 tahun untuk mencari nafkah setelah ibu saya lumpuh. Selama 33 tahun, orang tua saya tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dukungan," kenangnya. Kini, ia bertekad menciptakan suasana berbeda untuk putrinya, yang kerap muncul dalam video mereka. Meskipun Vincent sadar bahwa konten ini sudah dikomersialkan dan mungkin diproduksi massal, ia tetap merasa terbantu. "Sedikit kehangatan lebih baik daripada tidak sama sekali," katanya.
Ke depan, tren "virtual parents" kemungkinan akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di kalangan anak muda. Namun, apakah ini solusi jangka panjang atau sekadar plester luka sementara? Yang jelas, fenomena ini membuka ruang diskusi tentang pentingnya komunikasi dan dukungan emosional dalam keluarga, baik di China maupun Indonesia.



