Setelah Sembilan Tahun, Ryan Murphy Pertimbangkan 'Glee' Versi Baru
Baca dalam 60 detik
- Ryan Murphy mengaku tertarik menghidupkan kembali 'Glee' setelah melihat antusiasme generasi muda terhadap serial tersebut.
- Murphy menyebut masa produksi 'Glee' adalah masa terindah sekaligus terburuk karena intrik di belakang layar.
- Co-creator Brad Falchuk sebelumnya ragu soal nilai artistik reboot, menganggapnya hanya akan menjadi proyek komersial.

Ryan Murphy, kreator serial fenomenal Glee, untuk pertama kalinya secara terbuka mempertimbangkan untuk menghadirkan kembali serial yang tayang antara 2009 hingga 2015 itu dalam bentuk baru. Dalam wawancara dengan People, Murphy mengungkapkan bahwa lonjakan penonton muda di platform streaming membuatnya berpikir ulang untuk kembali ke William McKinley High.
“Banyak anak muda kini menontonnya. Mungkin kita harus mengunjungi kembali serial itu,” kata Murphy. Ia menambahkan bahwa nostalgia dan kecintaannya pada Glee cukup kuat untuk meyakinkan dirinya bahwa orang-orang akan menyambut inkarnasi baru dari cerita tersebut.
Glee sendiri sukses besar selama enam musim, meraih enam Emmy Awards dan melambungkan nama-nama seperti Lea Michele, Cory Monteith, dan Chris Colfer. Serial ini dikenal karena mengangkat isu representasi, inklusivitas, dan tentu saja musik yang ikonik.
Namun, Murphy juga mengakui bahwa produksi Glee tidak semulus yang terlihat di layar. Ia menyebut masa itu sebagai “masa terbaik dan terburuk dalam hidup saya”. Menurutnya, ada banyak pertengkaran dan hubungan personal yang rumit di antara para pemain dan kru. “Kami terlalu dekat sehingga batas antara atasan dan bawahan menjadi kabur,” kenang Murphy. Ia bahkan menggambarkan pengalaman tersebut sebagai “pelatihan menjadi orang tua”.
Ini bukan kali pertama ide reboot Glee mencuat. Sebelumnya, pada 2024, rekan kreator Brad Falchuk dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter menyatakan keraguannya. “Apakah ada cara untuk menceritakan kisah itu dengan cara yang lebih modern? Sebagian besar Glee adalah tentang transisi dari cara pandang lama soal representasi ke cara baru,” kata Falchuk. “Saya tidak akan bilang tidak, tapi apa tujuannya selain menghasilkan uang?”
Pertanyaan Falchuk itu menjadi relevan: akankah Glee versi baru mampu menangkap semangat orisinal yang membuatnya dicintai, atau justru hanya menjadi nostalgia komersial? Di Indonesia, Glee memiliki basis penggemar setia yang mengenal lagu-lagu seperti “Don’t Stop Believin’” dan “Somebody to Love” berkat penayangan di saluran TV kabel dan platform streaming.
Murphy sendiri belum memberikan detail spesifik soal format atau jadwal produksi. Namun, pernyataannya membuka kembali diskusi tentang kemungkinan kebangkitan serial-serial populer era 2000-an. Apakah penonton siap kembali ke ruang paduan suara McKinley High, atau lebih baik membiarkan kenangan tetap indah?



