265 Pasangan Menikah Berkat AI: Strategi Tokyo Melawan Krisis Demografi Mulai Tampak Hasilnya
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Tokyo melaporkan 265 pernikahan dari aplikasi kencan AI Tokyo Enmusubi, yang diluncurkan untuk mengatasi rendahnya angka kelahiran.
- Aplikasi ini menyaring 36.000 pendaftar menjadi 16.000 anggota, dengan 760 pasangan menjalin hubungan serius per Juni 2025.
- Jepang mencatat 671.236 kelahiran pada 2025, rekor terendah dalam satu dekade, mendorong pendekatan teknologi sebagai solusi demografi.

Sebanyak 265 pasangan telah menikah setelah bertemu melalui aplikasi kencan bertenaga kecerdasan buatan (AI) yang diluncurkan pemerintah Tokyo pada 2024, sebuah terobosan dalam upaya meningkatkan angka kelahiran Jepang yang terus merosot. Data resmi menunjukkan, inisiatif bernama Tokyo Enmusubi ini berhasil menjembatani mereka yang enggan mencari pasangan secara konvensional, memberi harapan baru di tengah krisis demografi.
Aplikasi tersebut hadir setelah survei mengungkap bahwa 70% warga Tokyo yang tertarik menikah tidak aktif mengikuti kegiatan perjodohan. Untuk memastikan hanya mereka yang serius bergabung, calon pengguna harus membuktikan status lajang secara legal dan lolos wawancara online. Per 30 Juni 2025, aplikasi ini mencatat 16.000 anggota dari 36.000 pelamar, dengan 760 pasangan dalam “hubungan serius”.
Angka kelahiran Jepang terus merosot ke rekor terendah 671.236 bayi pada 2025, penurunan tahunan kesepuluh berturut-turut. Kematian mencapai 1,6 juta jiwa, sementara tingkat kesuburan turun tipis 0,01 poin persen menjadi 1,14. Meski angka pernikahan sedikit meningkat, pemerintah memandang teknologi sebagai pendorong perubahan perilaku.
Seorang pengguna dengan nama samaran “Turtle” mengaku mencoba aplikasi itu sebagai “kesempatan terakhir” saat mendekati usia 40 tahun. “Setelah beberapa kali kencan buta, saya bertemu suami saya pada akhir Agustus dan mulai serius pada pertengahan September. Saya menerima lamarannya pada akhir Desember,” ujarnya. Pengguna lain, “Skytree”, mengatakan AI menampilkan kecocokan dalam tiga tahap, sehingga memberi keyakinan untuk bertemu. “Nilai kecocokan AI dengan pacar saya sempurna,” katanya.
Fenomena ini menarik perhatian Indonesia, yang juga menghadapi tren penundaan pernikahan dan penurunan angka kelahiran. Menurut data Badan Pusat Statistik, angka pernikahan di Indonesia turun 10% dalam lima tahun terakhir, sementara usia kawin pertama perempuan naik menjadi 22,3 tahun pada 2024. Meski belum separah Jepang, pola ini mengkhawatirkan jika tidak diantisipasi. Pemerintah Indonesia belum menerapkan pendekatan serupa, namun beberapa startup lokal mulai mengembangkan layanan perjodohan berbasis preferensi dan personalitas.
“Ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi, jika dirancang dengan verifikasi ketat, bisa mengubah perilaku sosial,” ujar seorang analis demografi dari Universitas Indonesia, yang enggan disebutkan namanya. “Namun, efektivitas jangka panjangnya masih perlu diuji, terutama dalam membangun keluarga yang stabil.”
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah AI bisa menjadi mak comblang yang andal, tetapi juga apakah model seperti Tokyo Enmusubi dapat diadaptasi di negara berkembang tanpa mengabaikan nilai-nilai lokal dan privasi pengguna. Jepang telah membuktikan bahwa krisis bisa memicu inovasi, sisanya tinggal bagaimana dunia merespons.



