Jakarta Gelap Satu Jam Malam Ini: Simbol Hemat Energi di Hari Lingkungan Hidup
Baca dalam 60 detik
- Pemadaman lampu serentak di sejumlah titik strategis Jakarta akan berlangsung pukul 20.30-21.30 WIB malam ini, sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026.
- Aksi ini telah diuji coba pada April lalu dan berhasil menghemat listrik 96,91 MWh serta menurunkan emisi karbon 77,53 ton CO2e, menunjukkan dampak nyata dari partisipasi publik.
- Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 14 Tahun 2021 menjadi landasan kegiatan ini, yang diharapkan dapat membudayakan gaya hidup hemat energi di tengah masyarakat urban.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mematikan lampu di sejumlah lokasi ikonik Ibu Kota selama satu jam, Sabtu (13/6) malam, sebagai aksi simbolis penghematan energi dan pengurangan emisi karbon dalam rangka Hari Lingkungan Hidup 2026. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan yang telah menunjukkan hasil konkret pada edisi sebelumnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan bahwa pemadaman akan berlangsung dari pukul 20.30 hingga 21.30 WIB. Titik-titik yang terdampak meliputi Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman, serta kawasan Balai Kota. Selain itu, sejumlah ruas jalan protokol dan arteri juga ikut gelap. "Suasana gelap selama satu jam menjadi simbol kepedulian bersama terhadap lingkungan dan masa depan kota," ujar Dudi dalam keterangan resminya.
Aksi serupa yang digelar pada 25 April lalu mencatatkan penghematan listrik sebesar 96,91 MWh, setara efisiensi biaya Rp140,2 juta. Lebih penting lagi, pemadaman tersebut berkontribusi menurunkan emisi karbon hingga 77,53 ton CO2e. Angka ini menjadi bukti bahwa partisipasi kolektif warga Jakarta dalam skala kecil sekalipun dapat memberikan dampak lingkungan yang signifikan.
Kegiatan ini didasari oleh Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon. Dudi menekankan bahwa pemadaman bukan sekadar acara tahunan, melainkan ajakan untuk mengubah kebiasaan sehari-hari. "Kami mengajak seluruh masyarakat menjadikan hemat energi sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari demi Jakarta yang lebih sehat dan nyaman untuk generasi mendatang," tegasnya.
Bagi warga Jakarta, pemadaman malam ini menjadi pengingat bahwa krisis iklim tidak bisa diatasi hanya oleh pemerintah. Setiap individu memiliki peran dalam mengurangi konsumsi listrik, terutama di rumah tangga dan perkantoran. Langkah sederhana seperti mematikan lampu yang tidak perlu, menggunakan peralatan hemat energi, atau beralih ke transportasi publik dapat memperkuat dampak aksi kolektif ini.
Ke depan, Pemprov DKI berencana memperluas cakupan pemadaman ke lebih banyak kawasan dan melibatkan partisipasi swasta. Pertanyaannya, mampukah Jakarta mempertahankan momentum ini dan menjadikan hemat energi sebagai norma baru, bukan sekadar seremoni tahunan?



