Diplomat Selandia Baru Terjerat Skandal Rasial, Duta Besar China Bereaksi
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters memicu kontroversi setelah melontarkan pernyataan bernada rasis kepada anggota parlemen keturunan China.
- Duta Besar China untuk Selandia Baru, Wang Xiaolong, angkat bicara secara tidak langsung mengkritik pernyataan Peters, memicu perang pernyataan di media sosial.
- Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi rasial yang melibatkan partai NZ First, yang dikenal kerap membuat pernyataan sensitif terhadap etnis minoritas.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan pernyataan bernada rasis kepada anggota parlemen keturunan China, Lawrence Xu-Nan, dalam sebuah debat di parlemen. Insiden ini memicu reaksi keras dari Duta Besar China untuk Selandia Baru, Wang Xiaolong, yang jarang berkomentar soal politik domestik negara itu.
Dalam debat yang membahas respons Selandia Baru terhadap pandemi Covid-19, Xu-Nan yang lahir di Tianjin namun besar di Auckland, bertanya kepada Peters apakah ia sudah divaksinasi. Peters menjawab dengan nada sinis, mengatakan Xu-Nan baru datang ke Selandia Baru lima menit yang lalu dan menyuruhnya "pulang ke negara sendiri". Ia juga menambahkan bahwa di negara asal Xu-Nan orang berbohong seperti ikan pipih, tetapi di Selandia Baru tidak demikian.
Pernyataan Peters itu sontak menuai kecaman. Wang Xiaolong, melalui akun media sosial X, menulis bahwa terkadang pernyataan seseorang lebih banyak mengungkapkan tentang pembuatnya daripada tentang orang lain. Meskipun Wang mengaku enggan campur tangan politik domestik, komentarnya jelas menyindir Peters. Peters pun membalas dengan nada defensif, menyebut komentar Wang justru membuktikan maksudnya. Ia menegaskan bahwa Selandia Baru adalah negara demokrasi yang menjamin kebebasan berbicara, berbeda dengan negara-negara lain yang membatasi hak-hak tersebut dengan kekerasan.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa sentimen anti-imigran dan rasisme masih menjadi isu sensitif di negara-negara maju, termasuk Selandia Baru yang selama ini dikenal toleran. Indonesia, sebagai negara dengan diaspora besar di luar negeri, perlu mencermati bagaimana warga negaranya diperlakukan di negara lain. Selain itu, hubungan diplomatik antara China dan Selandia Baru yang selama ini hangat bisa terganggu akibat insiden ini, mengingat China adalah mitra dagang utama Selandia Baru.
Peters dan partainya, NZ First, memang dikenal kerap membuat pernyataan kontroversial. Tahun lalu, wakilnya, Shane Jones, berteriak "kirim pulang orang Meksiko" kepada anggota parlemen kelahiran Meksiko, Francisco Hernandez. Peters saat itu mendukung pernyataan Jones dan meminta Hernandez serta Xu-Nan untuk bersyukur berada di Selandia Baru. Sebelumnya, Jones juga mengkritik perjanjian perdagangan bebas dengan India dengan menyebutnya sebagai "tsunami ayam mentega".
Ke depan, insiden ini berpotensi memperburuk citra Selandia Baru sebagai negara multikultural yang ramah. Pertanyaan yang muncul adalah apakah Peters akan meminta maaf atau justru semakin memperkuat retorika nasionalisnya. Bagi Indonesia, perkembangan ini patut diikuti mengingat banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Selandia Baru, dan insiden serupa bisa saja menimpa mereka.



