Kebakaran Hutan dan Lahan Meluas di Indonesia, Seorang Petani Tewas Terjebak Api
Baca dalam 60 detik
- Seorang petani berusia 70 tahun di Batang, Jawa Tengah, tewas saat terjebak kobaran api di ladang tebu pada awal Juli.
- Sepanjang Juli, Jawa Tengah mencatat 56 titik api dengan kerugian mencapai Rp607 juta, dipicu pembakaran sampah dan lahan pertanian.
- Pemerintah mengerahkan modifikasi cuaca dan teknologi drone untuk mengatasi karhutla yang diperparah musim kemarau akibat El Nino.

Musim kemarau yang semakin intensif di Indonesia memicu gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi, menelan korban jiwa pertama pada tahun ini. Seorang petani lanjut usia di Jawa Tengah tewas setelah terjebak api saat membakar lahan tebu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mengonfirmasi bahwa seorang petani berusia 70 tahun di Desa Kedawung, Kabupaten Batang, meninggal dunia pada 6 Juli lalu. Korban diduga terjebak kobaran api yang menyebar cepat saat ia bekerja di ladang tebu. Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebutkan bahwa dalam sebulan terakhir terjadi 56 kebakaran hutan dan lahan di provinsi tersebut, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp607 juta. Sebagian besar titik api berada di perkebunan tebu.
Pihak berwenang mengungkapkan bahwa sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas warga yang membakar sampah rumah tangga atau sisa pertanian. Kondisi cuaca panas dan kering membuat api cepat menjalar dan sulit dikendalikan. Kepolisian Daerah Jawa Tengah melalui juru bicaranya, Komisaris Besar Artanto, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan selama musim kemarau. "Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan, sampah, atau limbah pertanian secara sembarangan. Pada musim kemarau, api bisa menyebar dengan cepat dan sulit dikendalikan," ujarnya.
Kebakaran juga melanda wilayah lain di Indonesia. Di Sumatra Selatan, puluhan petugas pemadam kebakaran masih berjuang memadamkan api yang telah membakar lahan di Desa Suka Maju, Kabupaten Muara Enim, sejak Jumat pekan lalu. Kepala Divisi Kedaruratan dan Logistik BPBD Muara Enim, Alvi Gumara, mengatakan tim gabungan berhasil memadamkan api di lima dari delapan hektare lahan yang terbakar. "Sejauh ini kami berhasil memadamkan api di area seluas 5 hektare, sementara sisanya masih mengeluarkan asap," kata Alvi, Selasa (27/7). Operasi pemadaman dilanjutkan keesokan harinya untuk memadamkan titik-titik panas yang tersisa.
Data BPBD Muara Enim mencatat sejak Januari hingga 27 Juli, telah terjadi 575 kebakaran hutan dan lahan di kabupaten tersebut, menghanguskan total 664,87 hektare lahan. Sementara itu, di Jawa Barat, kebakaran di Kabupaten Sumedang pada Selasa (27/7) membakar sekitar tiga hektare lahan di Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari. Api berhasil dijinakkan oleh tim gabungan petugas pemadam dan personel darurat sehingga tidak meluas ke area pemukiman.
Di Kalimantan Barat, petugas masih berupaya mengendalikan kebakaran di Kabupaten Kubu Raya. Kondisi kemarau yang berkepanjangan membuat saluran drainase mengering, sehingga petugas kesulitan mendapatkan air untuk memadamkan api. Komandan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) KPH Kubu Raya, Florensius Loren, mengatakan timnya terus berpatroli di daerah rawan api untuk mendeteksi titik panas sedini mungkin. "Selain operasi pemadaman, kami terus berpatroli di daerah rawan kebakaran untuk mendeteksi titik panas sedini mungkin," ujarnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga 25 Juli, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat telah menghanguskan 28.680,47 hektare. Indonesia diperkirakan akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang tahun ini akibat dampak El Nino yang membawa kondisi lebih kering dari Samudra Pasifik. Hingga akhir Juli, lebih dari dua pertiga wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dan sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami curah hujan di bawah normal hingga akhir tahun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menyatakan pemerintah telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi karhutla di sejumlah provinsi rawan, seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Fokus respons pemerintah saat ini adalah operasi modifikasi cuaca, yang tidak hanya bertujuan menekan titik api tetapi juga menjaga ketinggian air di bendungan, waduk, dan danau untuk memastikan pasokan air selama musim kemarau. Pemerintah juga tengah menjajaki penggunaan teknologi baru, seperti drone, untuk meningkatkan efektivitas operasi modifikasi cuaca. "Selain metode konvensional, kami mempertimbangkan penggunaan drone dan teknologi lain untuk membuat operasi ini lebih efisien," kata Agus, Rabu (28/7), seperti dikutip Tempo.co.
Dengan musim kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, ancaman karhutla diperkirakan belum akan mereda. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah langkah-langkah mitigasi yang disiapkan pemerintah cukup cepat dan tepat untuk mencegah meluasnya kebakaran serta melindungi masyarakat di daerah rawan.



