Skandal Sullivan Guncang West Ham: Kretinsky Ambil Alih Kendali Klub
Baca dalam 60 detik
- Daniel Kretinsky akan menjadi pemegang saham terbesar West Ham dengan 43% setelah kesepakatan dengan keluarga Gold, menggeser posisi David Sullivan.
- Kretinsky dan Vanessa Gold menyatakan keprihatinan mendalam atas tuduhan pelecehan seksual terhadap Sullivan, yang juga dilarang kontak dengan tim wanita dan junior sejak 2023.
- Kesepakatan ini bertujuan menstabilkan keuangan klub yang merugi Β£104,2 juta dan mendukung target promosi kembali ke Premier League di bawah Nuno Espirito Santo.

Skandal di balik layar West Ham United memuncak setelah dua pemegang saham utama klub secara terbuka menentang David Sullivan, menyusul kesepakatan yang menjadikan miliarder Ceko Daniel Kretinsky sebagai pengendali baru. Kretinsky, bersama Vanessa Gold, mengeluarkan pernyataan keras menanggapi tuduhan perilaku seksual eksploitatif yang diungkap investigasi bersama BBC Panorama dan The Times.
Kretinsky, yang sebelumnya memiliki 27% saham, akan meningkatkan kepemilikannya menjadi 43% melalui transaksi pembelian saham keluarga Gold. Langkah ini secara otomatis menempatkannya di atas Sullivan yang memegang 38,8%. Kesepakatan, yang dijadwalkan final dalam beberapa pekan ke depan, juga mencakup perjanjian pemungutan suara bersama antara grup EP milik Kretinsky dan keluarga Gold dalam isu-isu kunci.
"Kami sangat prihatin dengan tuduhan terhadap Sullivan," demikian pernyataan bersama Kretinsky dan Gold. "Penyalahgunaan kekuasaan dalam bentuk apa pun menjijikkan, dan butuh keberanian besar bagi para perempuan untuk bersuara." Mereka menambahkan bahwa dewan direksi West Ham baru diberi tahu tentang tuduhan tersebut sekitar sebulan lalu, namun rincian lengkap baru diketahui publik pada Senin lalu.
Sullivan, 77 tahun, membantah keras semua tuduhan yang mencakup periode ketika ia membangun kekayaan dari industri pornografi, surat kabar, dan sepak bola. Ia menyebut tuduhan itu "kategoris tidak benar". Namun, fakta bahwa ia telah dilarang berinteraksi dengan tim wanita dan akademi selama tiga tahun terakhir menambah bobot skandal ini. Langkah pengamanan itu, menurut pernyataan Kretinsky dan Gold, baru diketahui dewan pekan ini.
Di tengah krisis kepemimpinan, West Ham juga berjuang keluar dari jerat degradasi. Setelah terdegradasi dari Premier League untuk pertama kalinya sejak 2012, klub kini berada di Championship dengan target promosi langsung. Manajer Nuno Espirito Santo, yang gagal mempertahankan status Premier League, tetap bertahan dan diyakini mampu mengulang sukses promosi bersama Wolves pada 2018.
Kondisi keuangan klub menjadi tantangan lain. Kerugian Β£104,2 juta pada tahun fiskal terakhir diperkirakan akan memburuk. Sejumlah pemain kunci, termasuk gelandang Portugal Mateus Fernandes yang diincar Manchester United, kemungkinan hengkang. West Ham membanderolnya Β£80 juta, namun klub peminat enggan membayar harga tersebut. Kretinsky, yang juga memiliki saham signifikan di jaringan supermarket Sainsbury's, diharapkan mampu menyuntikkan dana segar untuk menahan laju eksodus pemain.
Kesepakatan ini juga menjadi upaya meredam kemarahan suporter yang selama bertahun-tahun memprotes kepemimpinan Sullivan dan mantan wakil ketua Karren Brady. "Kami berkomitmen membangun koalisi kuat antara fans, pemain, manajemen, dan dewan," tulis pernyataan Kretinsky dan Gold. "Hanya dengan persatuan, West Ham bisa meraih masa depan cerah yang layak didapatkan."
Pertanyaan besarnya, akankah perubahan kepemilikan ini cukup memulihkan kepercayaan dan stabilitas di tengah pusaran skandal dan tekanan finansial? Atau justru akan membuka babak baru konflik internal yang lebih dalam?



