Derek McInnes ke Rangers: Solusi Mentalitas atau Sekadar Nostalgia?
Baca dalam 60 detik
- Hearts kehilangan pelatih kepala Derek McInnes yang dikabarkan segera bergabung dengan Rangers, menggantikan Danny Rohl yang hengkang ke RB Salzburg.
- Mantan asistennya, Tony Docherty, menilai McInnes punya keunggulan kompetitif dan mentalitas juara yang selama ini kurang dimiliki Rangers.
- Jika terealisasi, persaingan Old Firm musim depan diprediksi akan berlangsung sengit hingga akhir musim.

Derek McInnes, pelatih kepala Hearts, dikabarkan akan segera kembali ke Ibrox sebagai nahkoda baru Rangers. Kepindahan ini, jika terwujud, bukan sekadar perpindahan biasa—ia membawa misi memperbaiki mentalitas tim yang kerap runtuh di momen krusial.
Kabar ini mencuat setelah Danny Rohl memutuskan hengkang ke RB Salzburg. McInnes, yang pernah membela Rangers sebagai pemain antara 1995 hingga 2000, dinilai sebagai figur ideal untuk membangkitkan kembali gairah juara tim berjuluk The Gers. Tony Docherty, mantan asisten McInnes selama lebih dari satu dekade, menyebutnya sebagai "kecocokan sempurna".
"Dia adalah pribadi yang sangat kompetitif. Anda bisa melihatnya musim lalu ketika banyak orang mengira timnya akan hancur. Justru melalui dirinya dan rekrutmen yang dia lakukan, Hearts tetap kompetitif sepanjang musim," ujar Docherty dalam Scottish Football Podcast.
Pertanyaan soal mentalitas Rangers memang sudah menjadi isu lama. Musim lalu, saat split tiba, mereka berada di posisi kedua, unggul satu poin atas Hearts dan di depan Celtic. Namun, Rohl menyebut timnya memiliki "lima final piala" dan justru kalah empat kali, finis sebagai juru kunci tiga besar. Rory Loy, mantan striker Rangers dan Dundee, meyakini McInnes bisa mengubah pola tersebut. "Satu hal yang akan dibawa Derek McInnes di atas segalanya adalah apa yang selama satu dekade terakhir menjadi kelemahan Rangers—itu urusan di dalam kepala, itu mentalitas," tegas Loy.
McInnes bukanlah pelatih dengan koleksi trofi mentereng. Ia hanya memenangi Piala Liga bersama Aberdeen pada 2014 dan membawa Kilmarnock juara Championship. Namun, reputasinya justru terletak pada kemampuannya memaksimalkan potensi skuad di tengah keterbatasan sumber daya. Di Aberdeen, ia beberapa kali menjadi runner-up di bawah Brendan Rodgers. Di Kilmarnock, ia merebut tiket Eropa. Dan di Hearts, ia mencatatkan rekor poin tertinggi klub sebelum akhirnya kalah tipis dari Celtic milik Martin O'Neill pada menit-menit akhir musim lalu.
"Satu-satunya kekhawatiran mungkin dia akan berhadapan dengan kekuatan besar seperti Martin O'Neill yang memiliki rekam jejak terbukti. Tapi saya benar-benar percaya jika Derek McInnes menjadi manajer Rangers saat split, mereka tidak akan ambruk. Mungkin tidak menang, tapi setidaknya mereka akan bertarung hingga hari terakhir," tambah Loy.
Docherty pun optimistis persaingan Old Firm musim depan akan menjadi tontonan menarik. "Jika Martin O'Neill di Celtic dan Derek McInnes di Rangers, itu akan menjadi perebutan gelar yang luar biasa ketat tahun ini. Kekuatan Derek adalah umur panjangnya. Dia sudah menjadi manajer selama 18 tahun. Sungguh luar biasa memiliki umur panjang dan kesuksesan sebanyak itu," pungkasnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga ini mengingatkan pada pentingnya aspek mental dalam persaingan papan atas—sebuah pelajaran yang relevan bagi klub-klub Liga 1 yang kerap mengalami penurunan performa di akhir musim. Akankah McInnes menjadi kunci kebangkitan Rangers, atau justru nostalgia masa lalu yang tak lagi relevan? Musim depan akan menjawabnya.



