SpaceX Melantai, Elon Musk Resmi Jadi Triliuner Pertama di Dunia
Baca dalam 60 detik
- Saham SpaceX melesat 19% pada hari pertama perdagangan, menjadikan kapitalisasi pasarnya mencapai US$2,1 triliun.
- IPO ini meraup dana US$75 miliar, memecahkan rekor Saudi Aramco, meskipun SpaceX membukukan kerugian US$8,7 miliar dalam 15 bulan terakhir.
- Kekuasaan Musk yang luar biasa melalui saham kelas B dan rencana ambisius ke Mars menuai sorotan, namun investor ritel tetap optimistis.

Elon Musk resmi menyandang status triliuner pertama di dunia setelah saham perusahan roketnya, SpaceX, melesat pada debut perdagangan di Nasdaq, Jumat (13/6/2026). Kapitalisasi pasar SpaceX langsung menembus US$2,1 triliun, melampaui nilai Tesla, perusahaan kendaraan listrik yang juga dipimpinnya.
Saham SpaceX dibuka di level US$150 per lembar, sempat menyentuh US$168, dan ditutup di kisaran US$161. Kenaikan 19% pada hari pertama ini jauh di atas rata-rata historis IPO yang hanya 7%, menurut data Profesor Jay Ritter dari Universitas Florida. Dengan kepemilikan sahamnya di SpaceX dan Tesla, kekayaan bersih Musk diperkirakan mencapai US$1,1 triliun versi Forbes.
IPO ini menjadi yang terbesar dalam sejarah Wall Street, mengumpulkan dana segar US$75 miliar—melampaui rekor Saudi Aramco pada 2019. SpaceX membutuhkan dana besar untuk mewujudkan ambisi koloni Mars, satelit, dan pusat data orbital. Namun, di balik euforia, perusahaan yang didirikan pada 2002 ini masih membukukan kerugian US$8,7 miliar sejak awal 2025 hingga Maret 2026.
Struktur tata kelola SpaceX menjadi perhatian. Musk menguasai 82% suara melalui saham kelas B khusus, meski kepemilikan ekonominya hanya sekitar setengahnya. Pengaturan ini menuai kritik dari pengawas pemegang saham dan dana pensiun California serta New York yang mengirimkan surat keberatan. Mereka mempertanyakan klausul arbitrase wajib dan kekuasaan mutlak Musk.
Analis Morningstar menilai saham SpaceX "terlalu mahal" dan hanya pantas dihargai US$780 miliar. Mereka menyoroti tantangan teknologi seperti melindungi pusat data orbital dari radiasi serta ketertinggalan di bidang kecerdasan buatan (AI) dibanding Anthropic dan OpenAI. SpaceX sendiri mengakui dalam dokumen regulasi bahwa beberapa rencana bisnisnya bergantung pada "teknologi yang belum terbukti". Divisi AI-nya, xAI, belum memiliki jalur profitabilitas yang jelas.
Investor ritel seperti Yordys Coro, kontraktor IT di Miami, tetap optimistis. Ia melihat investasi US$14.000-nya melonjak menjadi US$17.000 dalam hitungan jam. "Saya akan bertahan," ujarnya. Namun, tidak semua pihak antusias. Dana pensiun guru dan pemadam kebakaran khawatir saham SpaceX akan masuk ke indeks dana mereka setelah Nasdaq merevisi aturan akselerasi.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya regulasi pasar modal yang melindungi investor ritel. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat mengevaluasi praktik tata kelola perusahaan dengan struktur saham berlapis seperti yang diterapkan SpaceX. Di sisi lain, kesuksesan IPO ini membuka peluang bagi perusahaan rintisan teknologi dalam negeri untuk bermimpi lebih besar, meski harus diimbangi dengan fundamental bisnis yang kuat.
Musk sendiri, dalam konferensi bersama CEO JPMorgan Chase, lebih banyak berbicara tentang "hotel bulan" dan koloni Mars ketimbang rencana chatbot Grok. Pertanyaan besarnya: akankah visi ambisius ini membuahkan hasil, atau investor hanya terbuai oleh pesona sang triliuner?



