SpaceX Raup Rp 1.170 Triliun dari IPO: Investor Jepang Borong Saham, RI Belum Terlihat
Baca dalam 60 detik
- Permintaan investor Jepang terhadap saham SpaceX pada IPO mencapai 1 triliun yen atau setara Rp 117 triliun, didominasi investor ritel.
- SpaceX berhasil mengumpulkan dana 75 miliar dolar AS dalam pencatatan saham perdana terbesar sepanjang sejarah, dengan total permintaan global 250 miliar dolar.
- Alokasi untuk investor ritel yang mencapai 30 persen menjadi daya tarik utama, sementara investor Indonesia belum tercatat dalam gelombang permintaan tersebut.
Antusiasme investor Jepang terhadap saham SpaceX melampaui ekspektasi, dengan total permintaan mencapai lebih dari 1 triliun yen atau sekitar 6,2 miliar dolar AS dalam penawaran umum perdana (IPO) perusahaan antariksa milik Elon Musk. Angka tersebut setara dengan Rp 117 triliun, menjadikan Jepang sebagai salah satu pasar terbesar dalam IPO bersejarah yang mencatatkan rekor sebagai yang terbesar di dunia.
Menurut dua sumber yang mengetahui langsung proses penawaran, mayoritas permintaan berasal dari investor ritel. Meskipun demikian, alokasi akhir yang diterima investor Jepang hanya sebesar 2,2 miliar dolar AS, sebagaimana terungkap dalam dokumen resmi yang dirilis Jumat lalu. Tingkat kelebihan permintaan (oversubscription) ini sejalan dengan pola global, di mana total permintaan global mencapai 250 miliar dolar AS untuk IPO yang mengumpulkan dana 75 miliar dolar AS.
Mizuho Securities USA, satu-satunya penjamin emisi asal Jepang untuk IPO ini, enggan mengomentari skala total permintaan investor Jepang. Namun, juru bicara Mizuho Securities mengungkapkan bahwa survei internal menunjukkan lebih dari 1.000 nasabah berbasis Jepang mengajukan alokasi di atas 100 juta yen (sekitar 624.500 dolar AS), dan beberapa investor bahkan mengincar alokasi di atas 10 miliar yen. Lonjakan permintaan juga tercermin dari pembukaan rekening baru di Mizuho Securities yang melonjak empat kali lipat pada sepertiga pertama Juni dibandingkan rata-rata 12 bulan terakhir.
Fenomena ini menyoroti daya tarik SpaceX di kalangan investor ritel, terutama karena IPO menyediakan alokasi khusus hingga 30 persen untuk merekaโangka yang tergolong tinggi untuk IPO besar. Investor juga berpotensi mendapatkan jatah tambahan jika penjamin emisi menggunakan hak opsi untuk menjual saham lebih banyak, keputusan yang biasanya diambil dalam 30 hari setelah penawaran.
Bagi Indonesia, IPO SpaceX menjadi pengingat akan besarnya minat global terhadap sektor antariksa dan teknologi tinggi. Meskipun belum ada laporan mengenai partisipasi investor Indonesia secara signifikan, gelombang permintaan dari Jepang menunjukkan bahwa investor ritel di Asia mulai melirik aset-aset inovatif di luar pasar tradisional. Ke depan, apakah investor Indonesia akan mengikuti jejak rekan mereka di Jepang untuk berinvestasi di perusahaan rintisan teknologi bernilai tinggi? Jawabannya mungkin bergantung pada regulasi pasar modal dan edukasi investasi di dalam negeri.


