Bukan Lagi Tim Kuda Hitam: Maroko Siap Tantang Brasil di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Maroko dan Brasil akan bertemu di Grup C Piala Dunia 2026, dengan status kedua tim kini dianggap setara setelah performa gemilang Maroko di Qatar 2022.
- Kapten Achraf Hakimi menolak label underdog, menegaskan laga ini 50-50 dan akan ditentukan oleh detail kecil serta ketajaman di depan gawang.
- Pelatih Mohamed Ouahbi membawa kepercayaan diri tinggi setelah sukses di level U-20, sementara Brasil mengakui peningkatan signifikan Maroko sejak kekalahan persahabatan 2023.
Pertemuan Brasil dan Maroko di Grup C Piala Dunia 2026 bukan sekadar ulangan masa lalu. Dua puluh delapan tahun setelah Brasil menghancurkan Maroko 3-0 di Prancis 1998, lanskap kekuatan kedua tim berubah drastis. Kini, Maroko datang dengan status semifinalis Qatar 2022 dan kepercayaan diri yang tak lagi memandang Brasil sebagai raksasa tak tersentuh.
Stadion New York New Jersey akan menjadi saksi bentrokan yang diprediksi berjalan ketat. Pelatih anyar Brasil, Carlo Ancelotti, menjalani debut Piala Dunia, sementara Maroko di bawah asuhan Mohamed Ouahbi ingin membuktikan bahwa pencapaian di Qatar bukan kebetulan. Ouahbi, yang baru setahun menukangi tim senior setelah sukses di Piala Dunia U-20, membawa filosofi permainan kolektif yang disiplin.
Kapten Maroko, Achraf Hakimi, dengan tegas menepis anggapan timnya sebagai underdog. “Di Piala Dunia, tidak ada favorit. Semua 50-50. Pertandingan akan ditentukan oleh detail kecil dan tim yang lebih klinis,” ujar bek kanan Paris Saint-Germain itu. Sikap ini mencerminkan perubahan mentalitas: Maroko tidak lagi puas hanya tampil di turnamen, melainkan ingin bersaing dengan elit.
Data menunjukkan kesenjangan historis masih lebar—Brasil mengoleksi lima gelar, sementara Maroko baru lima kemenangan sepanjang sejarah Piala Dunia. Namun, tren terkini berbicara lain. Pada Maret 2023, Maroko mengalahkan Brasil 2-1 dalam laga persahabatan, kemenangan pertama mereka atas Seleção. “Maroko telah berkembang pesat. Mereka sangat terorganisir dan mampu bersaing dengan siapa pun,” aku Vinicius Júnior, bintang Brasil.
Bagi Maroko, laga ini juga menjadi ujian konsistensi. Setelah sukses di Qatar, mereka harus membuktikan mampu mempertahankan level permainan. Pelatih Ouahbi optimistis: “Suasana tim sangat baik. Kami percaya pada pemain, kerja keras, dan prinsip yang kami tanamkan. Pertandingan akan menunjukkan posisi kami.” Namun, catatan sejarah menjadi pengingat: Maroko selalu kesulitan di laga perdana, apalagi melawan raksasa Amerika Selatan.
Dari sisi Brasil, kekalahan persahabatan 2023 menjadi alarm. Ancelotti, yang sebelumnya sukses di level klub, harus segera menyatukan skuad bertabur bintang seperti Vinicius, Rodrygo, dan Raphinha. “Permainan telah berevolusi, dan Maroko adalah bagian dari evolusi itu,” kata Vinicius, mengakui bahwa Brasil tidak bisa meremehkan lawan.
Implikasi bagi Indonesia: Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara (AS, Meksiko, Kanada) membuka peluang lebih besar bagi diaspora dan penggemar sepak bola Asia untuk menyaksikan langsung. Pertandingan Brasil vs Maroko di New York juga menjadi magnet bagi komunitas Brasil dan Maroko di Indonesia yang cukup besar. Kesuksesan Maroko sebagai wakil Afrika dan Arab juga menginspirasi negara berkembang seperti Indonesia bahwa sepak bola bukan monopoli tradisi tertentu.
Pertanyaan besarnya: akankah Maroko mampu mematahkan kutukan laga pembuka dan meraih hasil positif melawan Brasil? Ataukah pengalaman dan sejarah akan kembali berbicara untuk Seleção? Satu hal pasti, duel di New York New Jersey Stadium akan menjadi barometer sejauh mana Maroko benar-benar telah naik kelas.



