Piala Dunia 2026: Tunisia Pecat Sabri Lamouchi Usai Satu Laga, Rekor Buruk di Meksiko
Baca dalam 60 detik
- Tunisia menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang memecat pelatih setelah hanya satu pertandingan, menyusul kekalahan 5-1 dari Swedia.
- Sabri Lamouchi hanya menangani lima laga dengan satu kemenangan, dan timnya kebobolan 11 gol dalam tiga pertandingan terakhir.
- Mondher Kebaier, yang pernah membawa Tunisia ke perempat final Piala Afrika 2021, ditunjuk sebagai pengganti untuk sisa kualifikasi.

Kekalahan telak 5-1 dari Swedia pada laga perdana Grup F Piala Dunia 2026 menjadi titik akhir perjalanan Sabri Lamouchi sebagai pelatih kepala Tunisia. Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) mengonfirmasi pemutusan kontrak secara "kesepakatan bersama" pada Senin (12/6) waktu setempat, menjadikan Lamouchi sebagai pelatih pertama dalam sejarah Piala Dunia yang dipecat hanya setelah satu pertandingan.
Laga yang berlangsung di Estadio Monterrey, Guadalupe, Meksiko, itu memperlihatkan kelemahan fundamental Tunisia. Swedia unggul cepat dan tak memberi kesempatan bagi The Eagles of Carthage untuk bangkit. Kekalahan ini memperpanjang tren buruk Tunisia: dalam tiga laga terakhir—termasuk dua uji coba—mereka kebobolan 11 gol dan hanya mencetak satu gol.
Lamouchi, yang ditunjuk pada Januari lalu menggantikan Sami Trabelsi, hanya memenangi satu dari lima pertandingan: kemenangan 1-0 atas Haiti di laga perdananya. Selebihnya, ia menelan kekalahan dari Austria (0-1), Belgia (0-5), dan Swedia (1-5). Catatan ini menjadi yang terburuk bagi Tunisia dalam satu dekade terakhir, memicu kekecewaan publik dan pengamat sepak bola di negara Afrika Utara itu.
Keputusan FTF untuk segera mengganti Lamouchi dengan Mondher Kebaier menunjukkan urgensi untuk menyelamatkan sisa kualifikasi. Kebaier bukan nama asing: ia pernah menangani Tunisia pada Piala Afrika 2021, membawa tim ke perempat final sebelum kalah dari Burkina Faso. Pengalamannya diharapkan mampu membenahi pertahanan yang rapuh dan mengembalikan moral tim yang jatuh.
"Kami membuat terlalu banyak kesalahan. Ini bukan hal yang bisa kami lakukan. Kami menembak kaki kami sendiri," ujar Lamouchi seusai laga, merujuk pada blunder individu yang berujung gol Swedia. Statistik menunjukkan Tunisia hanya menguasai 38% penguasaan bola dan melepaskan 4 tembakan tepat sasaran, berbanding 12 milik Swedia.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat betapa kejamnya kompetisi level dunia. Timnas Indonesia yang tengah berjuang di kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia juga menghadapi tekanan serupa: hasil buruk di awal bisa berakibat fatal. Namun, perbedaan signifikan terletak pada kedalaman skuad dan pengalaman pelatih. Tunisia, yang pernah tampil di enam Piala Dunia, memiliki basis pemain yang lebih matang dibanding Indonesia yang baru merintis.
Dengan dua laga tersisa melawan Jepang dan Belanda, Tunisia masih memiliki peluang tipis untuk lolos jika mampu meraih kemenangan. Namun, perubahan pelatih di tengah jalan seringkali membawa risiko adaptasi. Pertanyaannya: akankah Kebaier mampu membalikkan keadaan, atau justru memperburuk situasi? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



