Lampu Hijau untuk Ukraina: 27 Negara Uni Eropa Sepakat Buka Negosiasi Aksesi Pekan Depan
Baca dalam 60 detik
- Duta besar dari 27 negara anggota Uni Eropa secara bulat memutuskan untuk memulai perundingan aksesi dengan Ukraina dan Moldova pada Senin depan di Luksemburg.
- Keputusan ini menjadi sinyal politik kuat bahwa UE tetap berkomitmen memperluas pengaruhnya di Eropa Timur, meskipun perang Rusia-Ukraina masih berkecamuk.
- Proses negosiasi diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun, namun tawaran ‘keanggotaan asosiasi’ dari Jerman membuka jalan alternatif bagi Ukraina untuk bergabung lebih cepat tanpa hak suara penuh.

Uni Eropa akhirnya memberikan lampu hijau bagi Ukraina untuk memulai perjalanan panjang menuju keanggotaan blok perdagangan terbesar di dunia. Dalam pertemuan di Brussel, para duta besar dari 27 negara anggota sepakat membuka negosiasi aksesi dengan Ukraina dan Moldova mulai Senin depan di Luksemburg. Keputusan ini diambil di tengah perang yang masih berkecamuk dan menjadi sinyal bahwa Eropa tidak berniat mengabaikan ambisi Kyiv untuk bergabung.
Bagi Ukraina, keanggotaan UE bukan sekadar soal ekonomi, melainkan jaminan keamanan jangka panjang setelah konflik dengan Rusia berakhir. Namun, jalan menuju kursi penuh di Brussel masih panjang. Setiap negara calon harus merampungkan negosiasi di 35 bidang kebijakan—dari pertanian hingga perdagangan—yang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Konferensi antar-pemerintah pada Senin nanti hanya akan membuka bab-bab awal yang berkaitan dengan nilai dan prinsip dasar Uni Eropa.
Keputusan ini juga menjadi ujian bagi solidaritas Uni Eropa. Hongaria, yang sebelumnya kerap memblokir langkah serupa, mulai melunakkan sikapnya setelah pergantian pemerintahan di Budapest. Meski demikian, setiap bab kebijakan tetap memerlukan persetujuan bulat, sehingga potensi hambatan masih terbuka. Sementara itu, Perancis dan Belanda disebut-sebut mendorong skema akselerasi yang memberikan akses terbatas tanpa hak penuh sebagai anggota.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam pernyataan bersama menyebut langkah ini sebagai “pengakuan atas tekad, keberanian, dan kerja keras” Ukraina dan Moldova dalam melakukan reformasi di tengah tekanan perang. Mereka menegaskan bahwa tawaran perdamaian, stabilitas, dan peluang dari UE tidak ada bandingannya. Namun, catatan korupsi dan standar peradilan yang masih rendah di Ukraina tetap menjadi kekhawatiran serius bagi sejumlah negara anggota.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang aktif dalam forum multilateral dan menjalin hubungan dagang erat dengan UE, perluasan blok tersebut ke Eropa Timur berpotensi mengubah peta investasi dan kerja sama perdagangan. Indonesia juga dapat belajar dari proses reformasi yang ditempuh Ukraina—seperti penyesuaian regulasi dan pemberantasan korupsi—yang menjadi prasyarat utama aksesi. Di sisi lain, ketegangan antara UE dan Rusia yang berkepanjangan bisa mempengaruhi stabilitas harga komoditas global, termasuk minyak sawit dan energi yang menjadi kepentingan nasional.
Ke depan, pertanyaan terbesar bukan hanya kapan Ukraina benar-benar menjadi anggota penuh, melainkan apakah UE mampu mempertahankan momentum integrasi di tengah perang yang tak kunjung usai dan perbedaan kepentingan di antara para anggotanya. Skenario “keanggotaan asosiasi” yang diusulkan Kanselir Jerman Friedrich Merz—tanpa hak suara di Dewan, Komisi, dan Parlemen Eropa—bisa menjadi kompromi yang realistis. Namun, tanpa jaminan keamanan seperti yang ditawarkan NATO, apakah tawaran UE cukup kuat untuk menjamin stabilitas Ukraina pasca-perang?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259325/original/058322700_1781495924-Pramono_Singapura.jpg)
