Timnas Indonesia Disarankan Uji Coba Lawan Tim Afrika Peserta Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan telak atas Oman dan Mozambik mendorong publik untuk menuntut lawan uji coba yang lebih berat bagi skuat Garuda.
- Pengamat sepak bola Raja Isa menilai laga melawan negara Afrika seperti Tunisia atau Maroko bisa menjadi tolok ukur kemampuan timnas.
- Pertandingan melawan tim yang sudah berpengalaman di Piala Dunia dinilai akan meningkatkan kualitas dan daya saing Indonesia.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8226517/original/021098000_1781086668-timnas_3.jpg)
Dua kemenangan beruntun di FIFA Matchday Juni 2026—menggebuk Oman 3-0 dan menundukkan Mozambik 1-0—membuat publik sepak bola Indonesia percaya diri. Namun, pengamat sepak bola asal Malaysia, Raja Isa Raja Akram Syah, menilai langkah selanjutnya harus lebih berani: menantang tim-tim papan atas Afrika yang sudah melenggang ke Piala Dunia 2026.
Di bawah asuhan pelatih asal Inggris, John Herdman, performa Rizky Ridho dan kawan-kawan menunjukkan lonjakan signifikan. Fisik yang prima, semangat juang tinggi, dan organisasi permainan yang rapi menjadi kunci menaklukkan dua lawan yang secara peringkat FIFA lebih unggul. Sebelum laga, Oman berada di peringkat 79 dan Mozambik di posisi 101, sementara Indonesia masih bertengger di peringkat 122. Dua kemenangan itu mendongkrak posisi Garuda ke peringkat 118.
Raja Isa, yang pernah berkarier sebagai pelatih di Indonesia, mengaku bangga dengan progres timnas. “Dengan kualitas yang sekarang, mereka harus berani uji coba dengan negara Afrika yang rangkingnya di atas Mozambik,” ujarnya. Ia menyebutkan beberapa kandidat ideal: Tunisia (peringkat 46 FIFA), Afrika Selatan (60), Tanjung Verde (67), dan Ghana (73). Keempat negara tersebut dipastikan tampil di Piala Dunia 2026, sehingga gengsi dan nilai komersial pertandingan akan sangat tinggi.
Menurut Raja Isa, menghadapi tim yang sudah memiliki sejarah di Piala Dunia akan menjadi tolok ukur sejati bagi Indonesia. “Kita akan tahu bagaimana para pemain menghadapi tim dengan fisik, taktikal, kecepatan, dan pengalaman Piala Dunia,” katanya. Ia bahkan menyarankan Maroko—tim teratas Afrika yang berkembang sangat pesat—sebagai lawan yang ideal. Meski hasil pertandingan belum tentu positif, pengalaman semacam itu dinilai akan memperkaya mental dan strategi tim.
Pada era kepelatihan Shin Tae-yong, Indonesia sempat berhadapan dengan Libya dan Burundi. Hasilnya beragam: kalah 1-2 dari Libya, serta menang 3-0 dan imbang 2-2 melawan Burundi. Kini, dengan fondasi yang lebih kokoh di bawah John Herdman, publik berharap timnas tidak hanya puas dengan kemenangan atas tim peringkat menengah, tetapi berani melangkah ke level yang lebih tinggi.
Langkah berani ini juga relevan dengan ambisi jangka panjang Indonesia untuk bersaing di level Asia dan dunia. Jika mampu memberikan perlawanan sengit terhadap tim sekelas Tunisia atau Ghana, kepercayaan diri pemain akan terangkat, sekaligus membuka peluang undangan turnamen bergengsi. Pertanyaannya, apakah PSSI dan John Herdman berani mengambil risiko untuk menguji ketangguhan Garuda melawan singa-singa Afrika?



