Investasi Ratusan Triliun di Liga Arab: Apakah Timnas Saudi Kini Menuai Hasil?
Baca dalam 60 detik
- Timnas Arab Saudi menahan imbang Uruguay 1-1 di laga perdana Piala Dunia 2026, menandai peningkatan performa sejak derasnya investasi Saudi Pro League.
- Lebih dari ยฃ700 juta digelontorkan untuk mendatangkan bintang seperti Ronaldo, Benzema, dan Neymar, yang turut mengangkat level kompetisi domestik.
- Kesebelasan Green Falcons kini dihuni pemain yang mayoritas bermain di liga lokal, menunjukkan transfer kualitas dari investasi klub ke tim nasional.

Arab Saudi memulai petualangan ketujuhnya di Piala Dunia dengan hasil imbang 1-1 melawan Uruguay di Miami, Senin (24/6) โ sebuah capaian yang tak lepas dari derasnya investasi yang mengalir ke Liga Pro Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Pertandingan itu menjadi ujian nyata apakah strategi menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan megabintang seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Neymar akhirnya membuahkan hasil bagi tim nasional.
Sejak awal 2000-an, Arab Saudi kerap menjadi bulan-bulanan di panggung dunia. Kekalahan 8-0 dari Jerman pada Piala Dunia 2002 menjadi noda kelam yang sulit terhapus. Namun, pola itu mulai berubah setelah Liga Pro Saudi gencar memboyong pemain top Eropa. Pada 2018, Salem al Dawsari menjadi pahlawan kala mengalahkan Mesir 2-1. Empat tahun kemudian, kejutan tercipta: Arab Saudi menaklukkan Argentina, yang akhirnya menjadi juara dunia.
Pertandingan melawan Uruguay menunjukkan progres signifikan. Gol Abdulelah al Amri โ bek pertama yang mencetak gol untuk Arab Saudi di Piala Dunia โ membawa timnya unggul hingga menit ke-80 sebelum akhirnya disamakan Maxi Araujo. Mantan bek Skotlandia Rachel Corsie memuji organisasi pertahanan yang rapat. โMereka pasti kecewa kebobolan, karena secara defensif sangat kompak,โ ujarnya di BBC Radio 5 Live.
Fenomena ini tak lepas dari keputusan berani mengganti pelatih hanya 59 hari sebelum turnamen. Herve Renard, arsitek kemenangan atas Argentina, didepak dan digantikan Georgios Donis asal Yunani. Langkah berisiko itu justru membuahkan hasil positif di laga perdana. Donis mampu meramu strategi yang membuat Uruguay, tim langganan Piala Dunia, kesulitan menembus pertahanan.
Bagi Indonesia, cerita Arab Saudi menawarkan pelajaran berharga. Investasi besar di liga domestik โ jika dikelola dengan visi jangka panjang โ bisa memperkuat tim nasional. Saat ini, skuad Green Falcons dihuni pemain yang mayoritas bermain di dalam negeri, berbeda dengan negara Asia lain yang mengandalkan diaspora. Musab al Juwayr, gelandang muda 22 tahun, menjadi contoh nyata: ia tumbuh di kompetisi lokal dan kini menjadi andalan dengan tiga assist di babak kualifikasi.
Ronaldo, yang baru saja mencetak gol ke-100 di Liga Pro Saudi, sempat menyebut liga setempat lebih baik dari MLS. Pernyataan itu mungkin terdengar bombastis, tetapi data menunjukkan peningkatan daya saing. Sadio Mane, eks Liverpool, juga memuji level kompetisi. โLiga Saudi sangat bagus dan ditonton seluruh dunia,โ katanya. Meski begitu, sumber di Riyadh menyebut fokus kini bergeser ke pemain muda dengan nilai jual, meski dana untuk superstar seperti Mohamed Salah masih tersedia.
Pertanyaan besarnya: bisakah tren ini berlanjut hingga Piala Dunia 2034 yang akan digelar di Arab Saudi? Jika konsistensi seperti melawan Uruguay terus terjaga, mimpi menjadi tuan rumah yang kompetitif bukan lagi sekadar angan.



