Gesture Kontroversial Wasit VAR: Klaim 'Kedutan Bawah Sadar' dan Investigasi FIFA
Baca dalam 60 detik
- FIFA memastikan tidak ada pelanggaran kode disiplin setelah meninjau gestur 'OK' terbalik yang dilakukan asisten wasit video Shaun Evans saat siaran langsung Piala Dunia.
- Evans membantah unsur kesengajaan dan menyebut gerakan itu sebagai refleks spontan, didukung bukti rekaman yang menunjukkan ia mengulangi gerakan serupa saat memegang pena.
- Insiden ini memicu perubahan protokol siaran VAR, di mana ofisial tidak lagi menghadap kamera, serta mendorong organisasi anti-diskriminasi seperti Kick It Out untuk meminta klarifikasi lebih lanjut.

FIFA memutuskan untuk tidak menjatuhkan sanksi terhadap asisten wasit video (VAR) Shaun Evans setelah investigasi internal menyimpulkan bahwa gestur 'OK' terbalik yang ia perlihatkan saat siaran langsung Piala Dunia hanyalah gerakan tidak sadar. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin malam, wasit asal Australia itu menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat menyampaikan pesan atau afiliasi tertentu melalui gerakan tangannya.
Insiden terjadi saat FIFA menampilkan cuplikan ruang VAR di Dallas menjelang pertandingan Jerman melawan Curacao, yang berakhir dengan kemenangan telak 7-1. Evans terlihat berdiri dengan tangan di samping tubuh, lalu membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk kanan—sebuah isyarat yang kerap dikaitkan dengan simbol supremasi kulit putih di kalangan ekstremis kanan. Reaksi cepat bermunculan di media sosial, memicu spekulasi luas tentang motif di balik gestur tersebut.
Dalam klarifikasinya, Evans yang berusia 38 tahun menyatakan bahwa ia sama sekali tidak menyadari gerakan itu. "Gambaran yang diambil kemudian selama pertandingan menunjukkan bahwa saya mengulangi gerakan ini berkali-kali sambil memegang pena di antara jari-jari saya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa menjadi ofisial di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam kariernya dan berharap dapat terus mendukung rekan-rekannya selama turnamen berlangsung.
FIFA sendiri telah melakukan penyelidikan dan menyimpulkan tidak ada bukti pelanggaran Kode Disiplin. Organisasi anti-diskriminasi Fare Network, yang bermitra dengan FIFA dan UEFA, sebelumnya mendesak tindakan tegas. Namun, setelah pernyataan Evans, Fare mengakui bahwa bukti video menunjukkan gerakan tersebut tidak disengaja. Sementara itu, Kick It Out—organisasi yang berbasis di Inggris—dilaporkan telah mengirim surat kepada FIFA untuk meminta klarifikasi lebih lanjut.
Yang menarik, perubahan protokol siaran VAR terjadi segera setelah pertandingan Jerman-Curacao. Pada laga-laga berikutnya, kamera tidak lagi menampilkan ofisial yang menghadap ke arah lensa; mereka langsung terlihat sibuk di depan monitor. FIFA tidak memberikan penjelasan resmi mengenai perubahan ini, namun langkah tersebut tampaknya diambil untuk menghindari kontroversi serupa.
Bagi publik Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa sensitifnya simbol-simbol tertentu di ruang publik global. Meskipun gestur 'OK' terbalik memiliki akar sebagai permainan kanak-kanak di Amerika Serikat—dipopulerkan oleh sitkom "Malcolm in the Middle"—maknanya telah berubah drastis sejak 2017 ketika kelompok sayap kanan mulai menggunakannya sebagai kode. ADL mencatat bahwa simbol tersebut kini kerap digunakan sebagai "taktik trolling" oleh individu berhaluan kanan di media sosial.
Ke depannya, pertanyaan besar yang mengemuka adalah sejauh mana FIFA akan memperketat pengawasan terhadap ofisialnya, terutama di momen-momen yang terekspos kamera. Apakah insiden ini akan mendorong perubahan kebijakan permanen terkait siaran VAR, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah Piala Dunia?



