Haiti Tak Sekadar Pelengkap di Piala Dunia, Pelatih Migne Incar Kemenangan Perdana
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Haiti Sebastien Migne menyatakan timnya tidak hanya menjadi peserta penggembira di Piala Dunia 2026, melainkan bertekad meraih kemenangan pertama dalam sejarah keikutsertaan mereka.
- Haiti tergabung di Grup C bersama Skotlandia, Brasil, dan Maroko, dan akan memulai perjuangan melawan Skotlandia pada Sabtu (13/6) di Boston.
- Migne menekankan bahwa sepak bola adalah soal mencetak gol lebih banyak dari lawan, dan ia berharap timnya bisa menjadi kejutan turnamen.
Pelatih tim nasional Haiti, Sebastien Migne, menegaskan bahwa negaranya tidak datang ke Piala Dunia 2026 hanya sebagai pelengkap. Dalam konferensi pers di Boston, Jumat (12/6), Migne menyatakan ambisi besar timnya untuk meraih kemenangan perdana di turnamen paling bergengsi ini, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih Haiti sepanjang sejarah partisipasi mereka.
Haiti tergabung dalam Grup C yang berat. Mereka akan menghadapi Skotlandia pada laga pembuka, disusul Brasil—tim yang telah lima kali menjadi juara dunia—dan Maroko, semifinalis Piala Dunia 2022. Meski di atas kertas Haiti adalah tim dengan peringkat terendah kedua di turnamen, hanya unggul dari Selandia Baru, Migne tidak gentar. "Saya berharap kami bisa menjadi salah satu kejutan turnamen ini," ujarnya.
Bagi Migne, kunci sukses sederhana: mencetak gol lebih banyak dari lawan. "Sepak bola adalah permainan, dan pada akhirnya ada yang kalah dan menang. Jika kami ingin menang, kami harus mencetak gol, siapa pun lawannya," tegas pelatih asal Prancis itu. Filosofi ini menjadi modal utama bagi skuad Grenadiers—julukan tim Haiti—yang akan bermain di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974.
Kembalinya Haiti ke panggung Piala Dunia setelah 52 tahun menjadi momen bersejarah. Migne mengingatkan bahwa pada 1974, Haiti hanya mampu mencetak satu gol sepanjang turnamen. "1974 adalah gol pertama kami, tetapi itu 52 tahun lalu. Kini ceritanya berbeda. Kami telah lolos lagi, dan sekarang kami harus mencetak gol untuk melaju ke babak berikutnya," katanya. Ia menambahkan bahwa menghadapi lawan-lawan tangguh di grup, timnya harus meningkatkan performa.
Bagi publik Indonesia, perjuangan Haiti bisa menjadi inspirasi. Tim-tim Asia Tenggara seperti Indonesia juga kerap dianggap underdog saat berlaga di turnamen internasional. Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Migne dan anak asuhnya mengingatkan bahwa sepak bola selalu menyediakan ruang bagi kejutan. Jika Haiti mampu meraih kemenangan perdana, hal itu akan menjadi bukti bahwa peringkat dan sejarah bukanlah segalanya.
Migne pun menutup dengan pernyataan visioner. "Mungkin pemain saya kurang dikenal, tetapi yang penting adalah jejak yang Anda tinggalkan. Kami berharap pada akhir turnamen, kami bisa meninggalkan jejak di kompetisi ini." Pertanyaannya, akankah Haiti mampu mengukir sejarah di Grup C yang penuh raksasa? Atau justru Skotlandia, Brasil, dan Maroko yang akan membuktikan dominasi mereka? Jawabannya akan mulai terlihat di Boston, Sabtu ini.



