Nadeo Argawinata Buka Suara soal 15 Pemain dan Pelatih Borneo FC yang Hengkang
Baca dalam 60 detik
- Borneo FC kehilangan 15 pemain dan pelatih Fabio Lefundes setelah finis kedua di Liga 1 musim lalu dengan poin identik Persib.
- Kiper utama Nadeo Argawinata memilih bertahan di Samarinda karena klub dianggap serius dan memberinya jaminan sebagai pilihan utama.
- Nadeo menargetkan gelar juara pada musim 2026/2027 setelah dua musim beruntun gagal di puncak klasemen.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259396/original/012528100_1781498754-Nadeo_Argawinata_2.jpg)
Kiper utama Borneo FC, Nadeo Argawinata, menanggapi santai gelombang kepergian 15 pemain dan pelatih kepala Fabio Lefundes yang terjadi pada jeda musim ini. Menurutnya, rotasi besar-besaran semacam itu sudah menjadi pola yang lazim dalam sepak bola profesional, terutama di klub berjuluk Pesut Etam tersebut.
Borneo FC musim lalu nyaris merebut gelar juara Liga 1 setelah mengumpulkan 79 poin, sama dengan Persib Bandung. Namun, mereka harus puas di posisi kedua karena kalah head-to-head dalam dua pertemuan: satu kekalahan dan satu hasil imbang di kandang. Meski demikian, manajemen memutuskan melakukan perombakan besar-besaran dengan melepas belasan pemain dan pelatih asal Brasil itu beserta stafnya.
Nadeo, yang baru saja memperpanjang kontraknya di Samarinda, mengaku sudah terbiasa dengan siklus tersebut. "Di dalam sepak bola, itu hal normal pemain datang dan pergi. Dari beberapa tahun ini kebetulan Borneo FC selalu begitu, jadi sudah cukup biasa," ujarnya kepada media. Pemain berusia 29 tahun itu menegaskan bahwa setiap pemain harus siap menghadapi kemungkinan hengkang kapan saja.
Kiper Timnas Indonesia itu mengaku tidak tergoda mengikuti jejak rekan-rekannya yang pergi. Baginya, keputusan bertahan di Borneo FC didasari oleh pertimbangan matang. "Sudah jelas berarti saat ini hanya Borneo FC yang pasti dan serius menginginkan saya. Tawaran dari klub lain memang sudah ada, tapi mungkin negosiasi yang belum tercapai," ungkapnya. Nadeo menambahkan bahwa faktor utama ia bertahan adalah jaminan sebagai pilihan utama dan kondisi finansial yang sehat.
Musim depan, Nadeo bertekad membawa Borneo FC meraih gelar juara yang selama dua musim terakhir selalu gagal diraih. "Target juara selalu menjadi tujuan utama. Pastinya, bisa mencapai apa yang sudah ditargetkan tim maupun secara pribadi. Bermain lebih maksimal dan bertanggung jawab dalam setiap pertandingan," katanya. Ia berharap musim 2026/2027 menjadi momentum kebangkitan Pesut Etam setelah dua kali finis sebagai runner-up.
Keputusan Nadeo bertahan di tengah eksodus besar-besaran menunjukkan loyalitas dan keyakinannya terhadap proyek jangka panjang klub. Namun, tantangan berat menanti: Borneo FC harus membangun kembali kekuatan tim dengan banyak wajah baru. Akankah strategi cuci gudang ini membawa hasil manis atau justru membuat mereka terpuruk? Musim depan akan menjadi jawabannya.



