Tuchel Bocorkan Formasi Inggris: Bellingham Jadi Nomor 10, Stones-Konsa Duet Bek Tengah
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel mengindikasikan Jude Bellingham akan menjadi playmaker utama Inggris di Piala Dunia, mengungguli Morgan Rogers.
- Duet bek tengah John Stones dan Ezri Konsa diprediksi menjadi pilihan utama, menyingkirkan Marc Guehi yang lebih pendek.
- Bukayo Saka kemungkinan besar tidak akan tampil penuh di fase grup karena masih dalam pemulihan cedera, memberi peluang bagi Noni Madueke.

Jelang laga pembuka Piala Dunia melawan Kroasia pekan depan, manajer timnas Inggris Thomas Tuchel mulai membuka tabir susunan pemain intinya. Dalam sesi latihan terakhir di Amerika Serikat, pelatih asal Jerman itu memberikan sinyal kuat bahwa Jude Bellingham akan menjadi otak serangan di posisi nomor 10, sementara lini belakang akan diisi duet John Stones dan Ezri Konsa.
Keputusan Tuchel menempatkan Bellingham sebagai gelandang serang mengejutkan banyak pihak, mengingat Morgan Rogers tampil impresif dalam beberapa laga uji coba. Namun, sumber internal tim mengungkapkan bahwa susunan pemain yang diturunkan saat mengalahkan Kosta Rika 3-0 dalam laga pemanasan terakhir hampir pasti menjadi formasi awal melawan Kroasia. Rogers pun harus rela memulai turnamen dari bangku cadangan.
Di lini pertahanan, pilihan Tuchel memilih Stones dan Konsa sebagai duet bek tengah juga menjadi kejutan. Marc Guehi, yang dianggap sebagai bek tengah utama Inggris sejak Euro 2024, justru terpinggirkan. Menurut analis taktik, Tuchel menginginkan postur lebih besar di jantung pertahananโStones (188 cm) dan Konsa (183 cm) dinilai lebih unggul secara fisik dibanding Guehi (182 cm). Meski demikian, keseimbangan kaki menjadi catatan: Stones dan Konsa sama-sama bertumpu pada kaki kanan, sementara Guehi biasa bermain di sisi kiri.
Di sayap kanan, Noni Madueke mendapat kepercayaan mengisi pos yang biasanya dihuni Bukayo Saka. Tuchel mengakui bahwa Saka masih dalam masa pemulihan cedera otot paha bawah yang mengganggunya di akhir musim Liga Inggris. Manajemen Arsenal sempat khawatir Saka akan absen panjang, namun kondisinya berangsur membaik. Tuchel kemungkinan akan mengatur menit bermain Saka secara bertahap, terutama di fase grup.
Keputusan Tuchel ini menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan pengalaman dan fisik dibandingkan fleksibilitas taktis. Bellingham, yang terbiasa bermain di bawah tekanan bersama Real Madrid, dianggap lebih siap menghadapi laga besar. Sementara itu, Madueke yang pernah dilatih Tuchel di Chelsea dinilai memiliki pemahaman taktik yang baik.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pilihan Tuchel bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara bakat individu dan kebutuhan tim. Inggris, yang kerap dianggap sebagai tim bertabur bintang, kini mencoba pendekatan pragmatis dengan mengutamakan fisik dan pengalaman di turnamen besar. Akankah strategi ini membawa mereka melangkah lebih jauh dari babak semifinal?



