Keputusan Ancelotti Tak Mainkan Endrick Tuai Kecaman: 'Dia Layak Lebih dari Sekadar Diam'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Brasil Carlo Ancelotti dikritik karena tidak memainkan Endrick sama sekali saat laga melawan Maroko di Piala Dunia 2026.
- Endrick, yang tampil gemilang di Lyon, dianggap fans sebagai kunci kemenangan yang terabaikan oleh Ancelotti.
- Keputusan ini memicu perdebatan soal manajemen pemain muda di tim nasional Brasil, mirip dengan situasi di Real Madrid.

Keputusan Carlo Ancelotti untuk tidak menurunkan Endrick, talenta muda Brasil, selama 90 menit penuh dalam laga imbang 1-1 melawan Maroko pada pembuka Piala Dunia 2026 langsung menuai gelombang kritik dari para pendukung. Pelatih yang juga menangani Real Madrid itu memilih bungkam saat ditanya soal pilihan individunya, dan lebih memilih menyoroti performa kolektif tim.
Brasil memulai kampanye Piala Dunia 2026 dengan hasil kurang memuaskan di New York. Ismael Saibari membawa Maroko unggul lebih dulu pada menit ke-21, sebelum Vinicius Junior menyamakan kedudukan sepuluh menit berselang. Meski Maroko tampil gemilang dengan menembus semifinal pada edisi 2022, Brasil tetap diunggulkan. Hasil imbang ini dianggap mengecewakan bagi tim tersukses dalam sejarah Piala Dunia.
Fokus kritik tertuju pada Ancelotti yang memilih tidak memainkan Endrick sama sekali, padahal Brasil tengah berupaya mencetak gol kemenangan. Endrick, 19 tahun, datang ke turnamen dengan catatan impresif: lima gol dan tujuh assist dari 16 penampilan selama dipinjamkan ke Lyon di Ligue 1. Namun, ia kesulitan menembus tim utama Real Madrid di bawah Ancelotti pada musim 2024-25. Kini, kekhawatiran serupa muncul di level tim nasional.
“Saya tidak akan berkomentar soal pemain individu, saya di sini untuk bicara tentang tim,” ujar Ancelotti dalam konferensi pers usai pertandingan. Pernyataan itu sontak memicu reaksi keras di media sosial. Seorang pendukung menulis di X, “Setiap kali Endrick disebut, ini jawabannya, bahkan sejak dia melatih Real Madrid. Ini tidak adil.” Penggemar lain menambahkan, “Endrick akan memenangkan pertandingan itu. Vini, Endrick, dan Raphinha harus menjadi starter.”
Kritik juga datang dari pengamat sepak bola yang menilai Ancelotti terlalu kaku dalam mengelola pemain muda. “Frasa ‘saya tidak akan bicara soal individu’ adalah kalimat yang diucapkan pelatih ketika tak punya jawaban baik. Endrick layak mendapat lebih dari sekadar diam,” tulis seorang netizen. Situasi ini mengingatkan pada perlakuan serupa terhadap Endrick di Real Madrid, di mana ia jarang mendapat menit bermain meski tampil tajam saat dipinjamkan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran tentang pentingnya memberi kesempatan pada pemain muda berbakat. Di tengah gempuran pemain bintang, Endrick membuktikan diri di level klub, namun masih harus berjuang untuk mendapatkan kepercayaan pelatih. Pertanyaannya, akankah Ancelotti mengubah pendekatannya di laga-laga berikutnya, atau justru semakin menjauhkan Endrick dari skuad utama?



