Isack Hadjar: Dari Kecelakaan ke Podium, Balapan Terpanjang Sepanjang Hidup
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Red Bull, Isack Hadjar, finis ketiga di GP Monako setelah memulai akhir pekan dengan kecelakaan keras di sesi latihan pertama.
- Sepanjang 60 lap, Hadjar berjuang melawan masalah unit daya yang parah, ditambah investigasi teknis tim yang nyaris menggagalkan podiumnya.
- Kemenangan ini menegaskan mentalitas pebalap muda Prancis tersebut di salah satu sirkuit paling menantang di kalender F1.
Akhir pekan Grand Prix Monako yang penuh drama berakhir manis bagi Isack Hadjar. Pebalap Red Bull asal Prancis itu sukses merebut podium ketiga setelah memulai akhir pekan dengan kecelakaan berkecepatan tinggi di sesi latihan pertama, dan bertahan melalui masalah teknis yang membuatnya menyebut balapan ini sebagai yang terpanjang dalam hidupnya.
Hadjar, yang baru meraih podium pertamanya musim ini, menunjukkan ketangguhan luar biasa di sirkuit jalan raya Monako. Masalah pada unit daya mobilnya muncul sejak awal balapan, memaksa ia harus mengelola ritme secara ekstrem di lintasan yang terkenal sempit dan tidak memberi ruang untuk kesalahan. “Jika ada satu trek di mana Anda tidak menginginkan masalah seperti itu, inilah tempatnya,” ujar Hadjar kepada awak media usai balapan.
Ketegangan bertambah ketika bendera merah dikibarkan pada lap-lap akhir untuk membersihkan lintasan. Saat balapan dihentikan hampir 40 menit, tim Red Bull sempat diperiksa oleh pengawas karena dugaan pelanggaran teknis saat melakukan perbaikan. Manajer tim Laurent Mekies menjelaskan bahwa mereka sempat bingung dengan instruksi yang diberikan, namun akhirnya tidak ada sanksi yang dijatuhkan. “Kami diperintahkan untuk membiarkan mobil seperti adanya, dan kami patuh,” kata Mekies.
Bagi Hadjar, podium ini terasa lebih manis karena ia nyaris kehilangan kepercayaan diri setelah kecelakaan di FP1. “Saya memulai akhir pekan dengan cara terburuk yang mungkin. Saya kehilangan semua kepercayaan di FP2 karena tidak merasakan mobil sama sekali,” kenangnya. Namun, dengan start yang bersih dan manajemen balapan yang cermat, ia mampu bertahan hingga garis finis.
Pencapaian Hadjar di Monako menjadi sorotan tidak hanya karena drama teknis, tetapi juga karena sirkuit ini merupakan salah satu yang paling prestisius di kalender F1. Bagi penggemar di Indonesia, prestasi pebalap muda seperti Hadjar bisa menjadi inspirasi, terutama dengan semakin dekatnya putaran F1 di Asia. Meski belum ada pebalap Indonesia yang berlaga di F1, ajang ini terus menarik minat besar di Tanah Air, dengan siaran langsung yang selalu dinanti.
Ke depan, Hadjar diharapkan bisa konsisten bersaing di barisan depan. Dengan performa seperti di Monako, ia membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan di musim ini. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan momentum dan menantang para pebalap papan atas secara reguler?



