Warga Malaysia Tewas di Korea Selatan Usai Leraikan Perkelahian, KBRI Berikan Bantuan Konsuler
Baca dalam 60 detik
- Seorang warga Malaysia tewas di Korea Selatan setelah mencoba melerai perkelahian di Eumseong County.
- Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) telah mengirim tim konsuler ke Seoul untuk membantu keluarga korban dan mengurus pemulangan jenazah.
- Polisi Korea Selatan menahan seorang pria Malaysia berusia 40-an sebagai tersangka, sementara beberapa warga Malaysia lainnya dimintai keterangan.

Seorang pria Malaysia yang telah bekerja di Korea Selatan selama hampir tujuh tahun tewas setelah nekat melerai perkelahian di kota Daeso-eup, Eumseong County. Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) langsung menggerakkan bantuan konsuler untuk keluarga korban dan memastikan proses hukum berjalan sesuai aturan.
Insiden berdarah itu terjadi pada akhir pekan lalu. Korban, Ahmad Shah Ahmad Ros, 30-an, dilaporkan mencoba memisahkan pertikaian antara sekelompok orang. Namun, aksinya berujung fatal. Pihak kepolisian Korea Selatan kemudian mengamankan seorang pria Malaysia berusia 40-an yang diduga sebagai pelaku penusukan. Selain itu, beberapa warga negara Malaysia lain yang menjadi saksi mata juga ikut diperiksa untuk membantu penyelidikan.
Wisma Putra dalam pernyataan resmi, Senin (27/7), mengonfirmasi bahwa Kedutaan Besar Malaysia di Seoul telah menghubungi keluarga korban dan memberikan bantuan konsuler penuh. Bantuan itu mencakup pengurusan dokumen, pemakaman, serta pemulangan jenazah ke Malaysia. Kami telah mendapat informasi bahwa warga Malaysia lain terlibat dalam penyelidikan yang sedang berlangsung,
demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kementerian juga menegaskan komitmennya untuk melindungi warga negara Malaysia di luar negeri. Mereka mengingatkan agar seluruh warga Malaysia yang tinggal atau bepergian ke luar negeri selalu mematuhi hukum setempat. Kami tidak akan mengungkap detail lebih lanjut tentang korban atau keadaan sekitar insiden demi menghormati penyelidikan dan privasi keluarga,
tambah pernyataan itu.
Kepergian Ahmad Shah menjadi pengingat getir akan risiko yang dihadapi pekerja migran di negeri orang. Bagi Indonesia, kasus serupa kerap ditangani oleh KBRI setempat dengan prosedur yang hampir sama: dari pendampingan hukum hingga pemulangan jenazah. Namun, para pengamat menilai seringkali para pekerja migran kurang mendapat edukasi tentang cara menghadapi situasi darurat atau konflik di negara tujuan. Edukasi keselamatan dan pemahaman hukum lokal sangat krusial untuk mencegah tragedi serupa,
ujar seorang analis hubungan internasional yang tak ingin disebutkan namanya.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya komunikasi cepat antara kedutaan dan keluarga korban. Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri sudah memiliki pusat krisis dan hotline 24 jam untuk warga yang mengalami masalah di luar negeri. Namun, kesadaran akan layanan tersebut masih rendah di kalangan pekerja migran. Ke depan, perlu ada sosialisasi massal terutama ke daerah-daerah pengirim pekerja migran agar mereka tahu prosedur darurat saat menghadapi masalah hukum atau kriminal.
Penyelidikan kasus penusukan di Eumseong masih berlangsung. Polisi Korea Selatan belum merilis motif pasti di balik perkelahian tersebut. Akankah terungkap bahwa ini murni kriminalitas biasa atau ada faktor lain seperti perselisihan antar pekerja? Wisma Putra terus memantau dan menjamin hak-hak hukum bagi semua warga Malaysia yang terlibat.



