Mimpi Buruk Afrika Selatan di Laga Perdana Piala Dunia 2026: Kartu Merah dan Kekalahan Telak
Baca dalam 60 detik
- Afrika Selatan harus menelan kekalahan 2-0 dari Meksiko di laga pembuka Piala Dunia 2026, diperparah dengan dua kartu merah yang diterima pemain mereka.
- Kekalahan ini memicu kritik tajam dari mantan kapten Dean Furman yang menyebut penampilan Bafana Bafana sangat jauh dari harapan, serta sorotan atas strategi defensif yang diterapkan.
- Di luar lapangan, sentimen anti-imigran di Afrika Selatan membuat banyak suporter Afrika justru mendukung Meksiko, menunjukkan perpecahan di kawasan tersebut.

Laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan berakhir dengan kekalahan telak 2-0 bagi Bafana Bafana, namun yang lebih menyakitkan adalah dua kartu merah yang diterima pemain mereka, menjadikan pertandingan ini sebagai mimpi buruk yang sulit dilupakan.
Meksiko, yang bertindak sebagai tuan rumah bersama, tampil dominan sejak menit awal. Gol cepat pada menit kesembilan melalui kesalahan Sphephelo Sithole di area pertahanan sendiri membuat Afrika Selatan tertinggal. Situasi semakin runyam ketika Sithole menerima kartu merah di babak kedua, disusul Themba Zwane yang diusir wasit setelah tinjauan VAR karena dianggap melakukan kekerasan terhadap Roberto Alvarado. Mantan kapten Afrika Selatan, Dean Furman, menyebut penampilan timnya sangat mengecewakan. "Mereka benar-benar tidak berada di level yang sama. Tidak ada satu pun pemain yang bisa bangga dengan permainannya," ujar Furman kepada BBC Radio 5 Live.
Kekalahan ini memicu perdebatan taktik. Pelatih Hugo Broos memilih formasi 5-3-2 yang dinilai terlalu defensif. Penggemar di Johannesburg kecewa, dengan Nicholas Makomene menilai tidak perlu "parkir bus" sejak awal. Broos sendiri mempertanyakan keputusan kartu merah kedua, namun Furman menegaskan bahwa di era modern, tindakan seperti yang dilakukan Zwane tidak bisa ditoleransi. "Ini akan menjadi Piala Dunia yang menarik jika kartu merah diberikan untuk hal seperti itu, tapi itulah sepak bola hari ini," katanya.
Di luar aspek teknis, kekalahan ini juga memiliki dimensi sosial-politik. Gelombang protes anti-imigran di Afrika Selatan yang memicu kekerasan dan pemulangan warga negara asing membuat banyak suporter Afrika justru mendukung Meksiko. Elisha Kamau di Nairobi menggelar pesta "hate-watch" yang dihadiri hampir 200 orang, semuanya mendukung Meksiko. Daniel Kaniki, penggemar asal Kongo di Atlanta, mengatakan, "Afrika seperti satu negara, jika ada yang mengusir yang lain, kita bukan lagi keluarga." Sentimen ini menunjukkan bahwa perpecahan di dalam benua dapat mempengaruhi dukungan terhadap tim nasional.
Kapten Ronwen Williams mengakui pertandingan yang berat, namun tetap bangga dengan semangat juang timnya meski bermain dengan sembilan pemain. "Kami tidak menyerah, itu menunjukkan mentalitas dan karakter kami," ujarnya. Namun, Furman menekankan perlunya perubahan cepat. Dengan dua pertandingan tersisa melawan Republik Ceko dan Korea Selatan, Afrika Selatan harus segera bangkit. "Mainkan formasi 4-3-3, turunkan pemain-pemain kreatif. Tunjukkan apa itu sepak bola Afrika Selatan," desaknya. Pertanyaan besarnya: mampukah Bafana Bafana bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan menjadi bulan-bulanan di grup yang masih terbuka lebar?



