Rupiah Tembus Rp17.845 per Dolar AS, Dekati Level Psikologis Rp17.800
Baca dalam 60 detik
- Rupiah menguat 0,72% ke Rp17.845 per dolar AS pada Jumat (12/6), mendekati level psikologis Rp17.800.
- Penguatan terjadi meski ada demonstrasi mahasiswa di Jakarta, ditopang pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke 99,785.
- Jika tren berlanjut, rupiah berpotensi menguji level Rp17.800 dan mengurangi tekanan impor bagi Indonesia.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (12/6/2026), mendekati level psikologis Rp17.800 per dolar AS yang dinanti pelaku pasar. Berdasarkan data Refinitif, rupiah ditutup menguat 0,72% ke posisi Rp17.845 per dolar AS pada pukul 14.06 WIB, memperpanjang tren positif setelah sempat tertekan di atas Rp18.000 beberapa hari sebelumnya.
Penguatan ini terjadi di tengah aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Indonesia di kawasan Bundaran HI, Jakarta, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. Namun, kali ini faktor eksternal lebih dominan. Indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,08% ke level 99,785, melanjutkan koreksi hari sebelumnya. Pelemahan greenback ini menjadi katalis utama bagi penguatan rupiah dan mata uang emerging market lainnya.
Sejak awal pekan, rupiah menunjukkan volatilitas tinggi. Pada Kamis (11/6), rupiah sempat melemah 0,14% ke Rp17.975 per dolar AS, sebelum akhirnya berbalik menguat pada hari ini. Level Rp18.000 sempat menjadi resistance psikologis yang kuat, namun kini rupiah berhasil menjauh dan mulai mengincar level Rp17.800.
Bagi Indonesia, penguatan rupiah membawa angin segar di tengah tekanan inflasi impor. Dengan nilai tukar yang lebih kuat, biaya impor barang mentah dan bahan baku menjadi lebih murah, yang berpotensi menekan harga barang di dalam negeri. Sektor energi dan manufaktur yang bergantung pada impor bahan baku menjadi salah satu pihak yang diuntungkan. Di sisi lain, eksportir mungkin akan merasakan tekanan karena daya saing produk di pasar global berkurang.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada kebijakan bank sentral AS dan data ekonomi global. Jika DXY terus melemah seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, rupiah berpeluang menguji level Rp17.800 dalam waktu dekat. Namun, risiko tetap ada, terutama dari ketidakpastian geopolitik dan arus modal asing yang bisa berbalik arah. Pertanyaannya, mampukah rupiah bertahan di bawah Rp18.000 dalam jangka menengah?



