Juventus Ganti CEO Lagi: Comolli Mundur, Carnevali dari Sassuolo Masuk
Baca dalam 60 detik
- Damien Comolli mengundurkan diri sebagai CEO Juventus setelah hanya satu tahun menjabat, digantikan Giovanni Carnevali yang sebelumnya sukses di Sassuolo.
- Keputusan ini diambil dalam rapat dewan direksi luar biasa, menandai perubahan arah manajemen klub yang tengah berjuang bangkit dari posisi keenam Serie A.
- Carnevali diharapkan membawa stabilitas dan visi jangka panjang, sementara Comolli meninggalkan warisan transisi yang belum tuntas.

Juventus kembali melakukan pergantian pucuk pimpinan eksekutif hanya dalam kurun waktu satu tahun. Damien Comolli resmi meletakkan jabatan sebagai CEO dan General Manager, digantikan oleh Giovanni Carnevali, mantan direktur utama Sassuolo yang telah malang melintang di industri sepak bola Italia sejak 2012.
Keputusan ini diumumkan setelah rapat dewan direksi luar biasa yang digelar Jumat pagi waktu setempat. Comolli, yang baru diangkat sebagai General Manager pada 2025 dan kemudian menjadi CEO pada November tahun yang sama, memilih mundur secara efektif segera. Dalam pernyataan resmi klub, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pemegang saham utama Exor, John Elkann, serta seluruh staf dan penggemar Juventus.
"Saya berterima kasih kepada John Elkann dan Exor atas kesempatan bekerja di klub prestisius ini. Dukungan penggemar adalah yang membuat klub ini unik," ujar Comolli dalam pernyataan yang dikutip situs resmi klub. Langkah ini menjadi babak baru dalam upaya restrukturisasi manajemen yang tengah dilakukan Juventus setelah musim 2025-26 yang mengecewakan.
Di sisi lain, Carnevali menyambut tantangan barunya dengan penuh percaya diri. "Saya bangga dan merasa terhormat bergabung dengan klub yang kaya sejarah dan identitas kuat. Saya akan bekerja keras membangun jalur pertumbuhan berkelanjutan dan masa depan yang sukses, bersama seluruh elemen organisasi," katanya. Carnevali dikenal sebagai arsitek di balik kesuksesan Sassuolo yang konsisten bertahan di Serie A selama lebih dari satu dekade dengan anggaran terbatas.
Pergantian CEO ini terjadi di tengah tekanan besar yang dihadapi Juventus. Setelah musim lalu hanya mampu finis di posisi keenam klasemen Serie A, klub harus puas bermain di Liga Europa musim depan—sebuah kemunduran signifikan bagi klub yang biasa mendominasi liga. Langkah manajemen untuk mempertahankan Luciano Spalletti sebagai pelatih hingga 2028 menunjukkan kepercayaan pada proyek jangka panjang, meski hasil di lapangan belum sesuai harapan.
Bagi pengamat sepak bola Italia, kedatangan Carnevali dianggap sebagai langkah strategis untuk mengembalikan stabilitas. Selama di Sassuolo, ia berhasil membangun model bisnis yang berkelanjutan dengan mengembangkan pemain muda dan menjualnya dengan harga tinggi. Pendekatan ini diharapkan dapat diterapkan di Juventus yang tengah berupaya menyeimbangkan ambisi kompetitif dengan kesehatan finansial.
Di Indonesia, pergantian manajemen Juventus ini menarik perhatian karena basis penggemar klub yang besar di Tanah Air. Banyak suporter berharap Carnevali mampu membawa kembali era kejayaan seperti di bawah Antonio Conte atau Massimiliano Allegri. Namun, tantangan terbesar adalah membangun tim yang kompetitif di level Eropa dengan sumber daya yang tidak lagi sebesar sebelumnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Carnevali akan melakukan perombakan besar-besaran di bursa transfer musim panas ini, atau justru memilih bertahap dengan mempertahankan inti skuad yang ada. Satu hal yang pasti: tekanan untuk segera meraih hasil positif akan langsung membayangi langkah pertamanya di Turin.



