Chelsea Berbelok Arah, Incar Danny Welbeck sebagai 'Havertz Baru'
Baca dalam 60 detik
- Chelsea mengubah strategi transfer dari boros menjadi terencana di bawah Xabi Alonso, kini membidik Danny Welbeck untuk memperkuat lini depan.
- Welbeck, 35 tahun, tampil impresif musim lalu dengan 13 gol Premier League dan pressing tinggi, mirip peran Kai Havertz yang pernah menjadi penghubung serangan.
- Jika terealisasi, Welbeck bisa menjadi pelapis ideal Joao Pedro sekaligus mengurangi ancaman pemain yang kerap mencetak gol ke gawang Chelsea.

Langkah Chelsea di bursa transfer mulai menunjukkan perubahan signifikan: tak lagi sekadar membuang uang, melainkan mencari pemain yang tepat. Klub asal London Barat itu dikabarkan tengah mendekati Danny Welbeck, striker Brighton berusia 35 tahun, sebagai jawaban atas kebutuhan lini depan yang belum tuntas. Pelatih Xabi Alonso menginginkan figur yang bisa menjadi titik tumpu serangan—sesuatu yang selama ini kurang di Stamford Bridge.
Sejak kedatangan Alonso, Chelsea meninggalkan pola pembelian impulsif yang menjadi ciri era BlueCo. Rekor transfer Morgan Rogers senilai 117 juta poundsterling dari Aston Villa menunjukkan klub kini punya cetak biru yang jelas. Namun, sektor penyerang masih menjadi pekerjaan rumah. Joao Pedro tampil gemilang dengan 20 gol di semua kompetisi musim lalu, tetapi Alonso menilai timnya kekurangan ‘nomor sembilan’ murni yang bisa menjadi fokus serangan. Nicolas Jackson dan Liam Delap gagal memenuhi ekspektasi; keduanya kemungkinan akan dilepas dalam beberapa pekan mendatang.
Nama Welbeck mencuat sebagai solusi. Menurut jurnalis transfer Ben Jacobs, Chelsea optimistis bisa mengamankan tanda tangan striker yang kontraknya di Brighton memasuki tahun terakhir. Welbeck sendiri disebut antusias pindah ke London. Meski belum ada negosiasi lanjutan, keyakinan dari semua pihak cukup kuat untuk menyelesaikan kesepakatan. Ini bukan transfer spektakuler, tetapi masuk akal secara taktis.
Welbeck bukan penyerang biasa. Musim lalu ia mencetak 13 gol di Premier League—catatan terbaik dalam kariernya—ditambah empat peluang besar yang diciptakan serta akurasi umpan mencapai 79 persen. Pemain jangkung 186 sentimeter ini juga dikenal dengan pressing tanpa lelah, mirip dengan karakter Kai Havertz yang pernah menjadi pilar Chelsea sebelum dijual ke Arsenal. Alonso ingin menghadirkan kembali dimensi permainan seperti itu: seorang penyerang yang bisa menghubungkan lini tengah dan depan, sekaligus menjadi ancaman di kotak penalti. Menariknya, Welbeck telah mencetak tujuh gol ke gawang Chelsea di Premier League, sehingga kehadirannya juga menghilangkan ancaman lawan.
Untuk penggemar sepak bola Indonesia, saga ini relevan karena Welbeck sudah lama dikenal sebagai pemain senior yang konsisten. Perannya sebagai false nine bisa menjadi contoh bagaimana pemain berusia 35 tahun tetap bisa bersaing di level tertinggi. Di tengah hiruk-pikuk transfer pemain muda mahal, langkah Chelsea justru menunjukkan bahwa pengalaman dan kecerdasan bermain masih dihargai. Jika bergabung, Welbeck akan menjadi pemain Inggris tertua yang direkrut Chelsea dalam beberapa tahun terakhir—sebuah sinyal bahwa klub tidak lagi terobsesi dengan potensi jangka panjang semata.
Di sisi lain, meredanya keborosan Chelsea patut dicermati. Sejak kedatangan Alonso, klub seperti mulai belajar dari kesalahan. Rekrutan seperti Welbeck mungkin tidak menggetarkan bursa transfer, tetapi bisa memberi keseimbangan yang hilang. Namun, apakah seorang pemain berusia 35 tahun mampu menjadi andalan di Premier League yang keras? Alonso tampaknya yakin, terutama jika Welbeck hanya diplot sebagai pelapis dan pemberi pengalaman di ruang ganti.
Jika transfer ini tuntas, Chelsea tak hanya mendapat pemain yang memahami sepak bola Inggris, tetapi juga sosok yang bisa menjadi jembatan antara pemain muda dan target ambisius tim. Pertanyaannya, bisakah Welbeck meniru kontribusi Havertz yang dinamis tanpa atribut usia? Atau akankah kebijakan baru ini justru membuat Chelsea makin tertinggal dari para pesaing? Hanya waktu yang akan mengungkap, tapi arah yang ditempuh Alonso setidaknya menunjukkan bahwa Chelsea kini memiliki peta jalan yang lebih masuk akal.



