BNBR Buktikan Diri: Laba Melonjak 49,6% Meski Pendapatan Terkoreksi
Baca dalam 60 detik
- Emiten Grup Bakrie, BNBR, mencatat laba bersih Rp503 miliar pada 2025, naik 49,6% dari tahun sebelumnya meski pendapatan turun 3%.
- Kinerja positif ditopang oleh pendapatan dari sektor infrastruktur jalan tol, kendaraan listrik, dan digital yang tumbuh di tengah tekanan global.
- Ke depan, BNBR akan fokus pada infrastruktur fisik dan digital serta pengembangan kendaraan listrik dan energi hijau sebagai motor pertumbuhan.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil membalikkan tekanan ekonomi global menjadi peluang. Sepanjang 2025, emiten Grup Bakrie ini membukukan laba bersih Rp503 miliar, melonjak 49,6% dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp336 miliar. Capaian ini kontras dengan pendapatan bersih yang justru turun tipis 3% menjadi Rp3,74 triliun.
Direktur Utama BNBR, Anindya N. Bakrie, mengakui bahwa tahun lalu penuh tantangan. Ketegangan geopolitik, volatilitas harga energi, gangguan rantai pasok, dan perlambatan ekonomi global menjadi batu sandungan. Namun, menurut dia, kemampuan adaptasi dan daya tahan perusahaan menjadi kunci untuk tetap tumbuh. "Kami fokus pada sektor-sektor yang memiliki prospek jangka panjang, seperti infrastruktur dan energi hijau," ujarnya dalam RUPS Tahunan di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Pendapatan BNBR ditopang oleh tiga pilar utama. PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group menyumbang Rp2,2 triliun, diikuti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar Rp1,08 triliun, dan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group sebesar Rp464,21 miliar. Sektor infrastruktur menjadi andalan, terutama melalui pengelolaan Tol Cimanggis-Cibitung sepanjang 26,18 km yang masa konsesinya berlangsung hingga 2061. Volume lalu lintas tol ini mencapai 40.888 kendaraan per hari, melampaui target RKAP sebesar 3,38%, dengan pendapatan harian rata-rata Rp2,3 miliar. Manajemen optimistis pendapatan tol akan terus meningkat seiring rencana kenaikan tarif pada 2026.
Di sisi infrastruktur digital, anak usaha PT Multi Kontrol Nusantara (MKN) mencatat pendapatan Rp358,9 miliar, tumbuh 14,9% berkat kontribusi dalam program pemerintah untuk pemerataan konektivitas internet di daerah pedesaan dan 3T. MKN telah membangun jaringan kabel fiber optik sepanjang lebih dari 8.000 km dan FTTH dengan total homepass lebih dari 320.000 di seluruh Indonesia. Sementara itu, VKTR berhasil menjual 69 unit kendaraan listrik pada 2025, terdiri dari 53 bus, 10 truk, dan 6 forklift. Secara kumulatif, VKTR telah menjual 135 bus listrik, 24 truk listrik, dan 13 forklift sejak berdiri.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, kinerja BNBR menunjukkan bahwa diversifikasi bisnis ke sektor infrastruktur dan energi hijau dapat menjadi tameng di tengah ketidakpastian global. Apalagi, pemerintah terus mendorong transisi energi dan pembangunan infrastruktur digital yang membuka peluang bagi anak usaha BNBR seperti Helio (PLTS Atap) dan Modula (teknologi konstruksi 3D). Kolaborasi dengan COBOD International dari Denmark di bidang pencetakan 3 dimensi juga menandai langkah BNBR dalam merintis bisnis baru yang potensial.
Ke depan, BNBR akan terus menggarap lini infrastruktur fisik dan digital sambil mengembangkan kendaraan listrik serta energi baru terbarukan. Pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana perusahaan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan laba di tengah ancaman perlambatan ekonomi global dan fragmentasi perdagangan yang masih berlangsung.



