Natalie Imbruglia Buka Suara soal Perjuangan IVF: Bukan Pilihan Tanpa Lelaki
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Natalie Imbruglia menjalani beberapa siklus IVF hingga akhirnya memiliki anak lewat donor sperma pada 2019.
- Ia menegaskan keputusannya bukan bentuk penolakan terhadap pria, melainkan respons terhadap tekanan biologis.
- Natalie mengkritik minimnya informasi dan dukungan emosional dalam proses IVF yang ia sebut brutal dan traumatis.

Penyanyi internasional Natalie Imbruglia, yang dikenal lewat hit "Torn", mengungkap pengalaman pahit menjalani fertilisasi in vitro (IVF) hingga akhirnya menjadi ibu tunggal pada usia 51 tahun. Dalam wawancara terbaru, ia membantah anggapan bahwa keputusannya memilih donor sperma adalah bentuk penolakan terhadap keberadaan pria dalam hidupnya.
Bagi perempuan Indonesia yang tengah mempertimbangkan jalur IVF, pengakuan Natalie memberikan gambaran realistis tentang tantangan fisik dan mental yang jarang dibahas. Di Indonesia, angka keberhasilan IVF berkisar 30-40% per siklus, namun biaya dan beban emosional seringkali tidak terduga. Kisah Natalie menyoroti pentingnya edukasi dan dukungan sosial sebelum memulai proses ini.
Natalie, yang kini memiliki anak laki-laki bernama Max, mengaku bahwa keputusannya bukanlah pilihan sadar untuk hidup tanpa pasangan. "Saya benar-benar tersinggung ketika orang menganggap saya memilih ini daripada bersama pria. Itu tidak adil bagi kaum pria," ujarnya dalam podcast How To Fail With Elizabeth Day. Ia menekankan bahwa tekanan "jam biologis" yang mendorongnya, bukan karena misandri.
Pelantun "Torn" itu juga mengkritik minimnya informasi yang diberikan oleh tenaga medis. "Ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang proses itu, dan banyak trauma yang bisa dihindari jika ada yang memberi tahu," katanya. Ia menyoroti efek samping hormon yang membuat hidup terasa sulit, terutama fase "jatuh bebas" setelah kegagalan siklus. "Mereka tidak menyiapkan Anda secara mental. Begitu dinyatakan gagal, Anda harus segera bangkit sendiri tanpa bantuan," tambahnya.
Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan reproduksi dan opsi IVF semakin meningkat, namun stigma terhadap ibu tunggal masih kuat. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Hildayani, menilai bahwa pengakuan publik figur seperti Natalie dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong diskusi terbuka. "Banyak perempuan Indonesia yang menjalani IVF sendirian karena tekanan sosial. Kisah Natalie menunjukkan bahwa dukungan teman dan informasi yang cukup sangat krusial," ujarnya.
Natalie menyarankan para perempuan yang akan menjalani IVF untuk tidak melakukannya sendirian. "Carilah teman-teman baik yang bisa Anda hubungi. Proses ini bisa sangat sepi," pesannya. Ia juga mendorong berbagi pengalaman antar sesama pejuang IVF agar lebih siap menghadapi kenyataan pahit yang jarang diungkap dokter.
Ke depan, semakin banyak perempuan yang memilih jalur IVF sebagai solusi kesuburan, baik karena faktor usia maupun pilihan hidup. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan dan dukungan sosial di Indonesia siap mengakomodasi kebutuhan emosional dan informatif para calon ibu tunggal ini?



