Bom Rakitan Meledak di Manila, Benda Mencurigakan Ditemukan di Dekat Senat Beberapa Jam Sebelum Pidato Marcos
Baca dalam 60 detik
- Sebuah bom rakitan meledak dekat Kementerian Kehakiman Filipina pada Senin dini hari, diikuti penemuan benda mencurigakan di sekitar gedung Senat, beberapa jam sebelum Presiden Ferdinand Marcos menyampaikan pidato kenegaraan tahunan.
- Kepala Kepolisian Nasional Filipina menyatakan kedua insiden kemungkinan besar terkait, meski belum ada korban jiwa dan penyelidikan masih berlangsung.
- Peristiwa ini terjadi di tengah ketegangan politik yang meningkat, dengan proses impeachment terhadap Wakil Presiden Sara Duterte dan skandal korupsi proyek pengendalian banjir yang mengemuka.

Manila, Filipina โ Sebuah ledakan bom rakitan mengguncang kawasan dekat Kementerian Kehakiman Filipina pada Senin (27/7) dini hari, diikuti penemuan sebuah benda diduga bom di sekitar gedung Senat. Kedua insiden terjadi hanya beberapa jam sebelum Presiden Ferdinand Marcos menyampaikan pidato kenegaraan tahunan di hadapan Kongres.
Bom pertama meledak tepat setelah tengah malam di pintu masuk Kementerian Kehakiman. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, ledakan itu memicu kekhawatiran keamanan di pusat pemerintahan Manila. Kepala Kepolisian Nasional Filipina, Jose Melencio Nartatez Jr., menyatakan kemungkinan besar kedua peristiwa saling terkait. "Ada kemungkinan atau probabilitas besar bahwa keduanya berhubungan," ujarnya kepada wartawan.
Penemuan benda mencurigakan kedua dilaporkan sekitar pukul 08.30 waktu setempat di sebuah jalan yang berbatasan langsung dengan gedung Senat. Seorang sopir mobil derek yang melintas pertama kali melihat benda tersebut dan segera melapor ke petugas keamanan. Tim penjinak bom kemudian mengamankan sejumlah material, termasuk sumbu ledak, jam, dan sebuah toples berisi bubuk cokelat yang masih diuji coba. Hingga berita ini diturunkan, polisi belum dapat memperkirakan besaran ledakan yang mungkin ditimbulkan.
Ketegangan politik tengah mencapai titik panas di Filipina. Wakil Presiden Sara Duterte tengah menghadapi proses impeachment, sementara publik dihebohkan skandal korupsi proyek pengendalian banjir fiktif yang melibatkan sejumlah pejabat. Dalam konteks inilah Marcos menyampaikan pidato kenegaraanโajang yang kerap menjadi sasaran aksi protes atau teror di masa lalu.
Bagi Indonesia, rentetan peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan keamanan menjelang acara kenegaraan. Filipina dan Indonesia sama-sama menghadapi ancaman kelompok ekstremis yang kerap memanfaatkan momen politik untuk melancarkan aksi. Kepolisian Filipina sendiri mengakui bahwa meskipun telah memiliki rencana kontingensi untuk menghadapi ancaman bom, "ada yang lolos" hingga meledak di depan Kementerian Kehakiman. Pernyataan ini mengindikasikan perlunya evaluasi prosedur keamanan di titik-titik sensitif.
Menurut pengamat keamanan, ledakan dan penemuan bom yang nyaris bersamaan ini mengirim sinyal bahwa aparat keamanan Filipina masih memiliki celah. "Kejadian ini menunjukkan bahwa koordinasi antara berbagai lembaga keamanan perlu diperkuat, terutama saat menghadapi ancaman teror yang terkoordinasi," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas kedua insiden tersebut. Polisi masih mendalami motif dan kemungkinan keterkaitan dengan agenda politik jangka pendek atau jangka panjang. Pertanyaan besarnya: apakah ledakan itu sebuah peringatan, ataukah awal dari rangkaian aksi teror yang lebih besar? Filipina, dan kawasan Asia Tenggara, menanti jawabannya.



