Rivera Kecam Pirlo: Bukan Orang yang Tepat Pimpin Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Legenda Italia Gianni Rivera mengkritik pencalonan Andrea Pirlo sebagai pelatih timnas karena afiliasinya dengan situs judi Rusia Fonbet.
- Paolo Maldini diduga tetap mendorong Pirlo meskipun kontroversi itu terungkap, namun FIGC memblokir langkah tersebut.
- Kasus ini menjadi peringatan bagi federasi sepak bola global, termasuk Indonesia, tentang risiko reputasi akibat hubungan dengan industri judi.

Legenda sepak bola Italia, Gianni Rivera, melontarkan kritik keras terhadap Andrea Pirlo dan Paolo Maldini menyusul terungkapnya keterlibatan Pirlo sebagai duta global situs judi Rusia yang dilarang di Italia. Rivera menilai Pirlo tidak layak memimpin tim nasional, dan ia terkejut masih ada pihak yang mendukungnya.
Pirlo sempat menjadi kandidat utama pelatih timnas Italia setelah Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola menolak tawaran tersebut. Namun, rencana itu gagal setelah terungkap bahwa Pirlo menjadi brand ambassador Fonbet, sebuah perusahaan judi Rusia yang dilarang beroperasi di Italia. Ia bahkan melakukan kunjungan promosi ke Moskow pada Mei 2026.
Menurut laporan, Maldini, yang menjabat direktur teknis, tetap berupaya menunjuk mantan rekan setimnya di AC Milan itu. Namun, upaya tersebut dihadang oleh presiden FIGC, Giovanni Malagรฒ. Rivera, yang juga mantan politikus, menyatakan dalam wawancara dengan Repubblica bahwa hubungan Pirlo dengan Rusia membawa risiko reputasi besar bagi sepak bola Italia. โDia bukan orang yang tepat, dan saya terkejut ada yang berpikir sebaliknya,โ ujarnya.
Kontroversi ini tidak hanya menyoroti masalah integritas di tubuh federasi Italia, tetapi juga relevan bagi sepak bola Indonesia. Di tengah upaya PSSI membersihkan citra sepak bola nasional, kasus ini menjadi pengingat bahwa afiliasi dengan industri judi dapat mencoreng nama baik tim dan federasi. Indonesia sendiri melarang keras segala bentuk perjudian, dan keterkaitan dengan situs semacam Fonbet bisa menjadi bumerang bagi kredibilitas.
Selain Pirlo, nama Marco Materazzi dan Francesco Totti juga disebut pernah terlibat dalam acara sponsor di Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dengan perusahaan judi masih menjadi titik rawan di kalangan mantan pemain top. Analis sepak bola menilai bahwa federasi harus lebih ketat dalam memverifikasi latar belakang kandidat pelatih agar tidak terjebak dalam kontroversi serupa.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah FIGC akan mengambil langkah lebih tegas terhadap para mantan pemain yang terlibat dengan industri judi. Kasus ini juga menjadi pelajaran bagi federasi lain, termasuk Indonesia, untuk menjaga jarak dari segala bentuk afiliasi yang dapat merusak integritas olahraga.



