Krisis Sarapan di Transportasi Umum: 93% Penumpang Inggris Pilih Diam Meski Terganggu
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 93% penumpang angkutan umum di Inggris enggan menegur sesama pengguna meski merasa terganggu, dengan makanan berbau menyengat sebagai pemicu utama.
- Studi yang digagas yfood mengungkap 49% responden merasa 'ick' saat melihat orang lain makan di transportasi umum, terutama ikan dan telur rebus.
- Fenomena ini mendorong 42% komuter mempertimbangkan sarapan cair untuk menghindari konflik, sekaligus menghemat waktu di pagi hari.

Sebagian besar pengguna transportasi umum di Inggris memilih menahan kekesalan daripada menegur sesama penumpang yang dianggap mengganggu, terutama saat menyantap makanan berbau tajam. Sebuah survei terbaru mengungkap bahwa 93% responden tidak akan pernah menegur perilaku buruk di kereta atau bus, dengan satu dari delapan orang mengaku diam karena kecemasan sosial.
Riset yang dilakukan oleh merek makanan pengganti yfood ini melibatkan ribuan komuter Inggris. Hasilnya menunjukkan 77% responden merasa jengkel dengan penumpang lain, dan 5% mengaku kesal setiap kali bepergian. Namun, budaya sopan santun yang khas justru menjadi penghalang untuk menyampaikan ketidaknyamanan secara langsung.
Makanan menjadi sumber gesekan terbesar. Hampir setengah responden (49%) mengatakan melihat orang lain makan di transportasi umum membuat mereka merasa 'ick'—istilah populer untuk rasa jijik atau tidak nyaman. Makanan paling tidak disukai adalah ikan dan kentang goreng (35%), telur rebus (32%), makanan cepat saji seperti McDonald's atau KFC (26%), serta sandwich tuna (23%) dan telur mayones (22%).
Selain makanan, pemicu kekesalan lain meliputi panggilan telepon keras atau musik yang diputar tanpa headset (42%), bau badan (34%), tas atau kaki di kursi (28%), meninggalkan sampah (27%), dan manspreading atau mengambil terlalu banyak ruang (22%). Kebiasaan mengunyah dengan suara keras juga disebut cukup untuk merusak perjalanan oleh 13% responden.
Ahli etiket William Hanson, yang juga menjadi duta 'Commuter Code' yfood, menilai ketegangan ini merupakan gejala keengganan budaya yang lebih luas untuk menegur perilaku buruk di depan umum. "Transportasi umum selalu beroperasi dengan aturan sosial tak tertulis, dan kecenderungan orang Inggris adalah mengamati aturan itu dilanggar dalam keheningan total," ujarnya. "Akibatnya, perjalanan menjadi jauh lebih stres dari yang seharusnya."
Hanson menambahkan bahwa perjalanan paling mulus bukanlah saat penumpang dengan sopan menahan perilaku buruk, melainkan saat tidak ada yang memberi alasan untuk ditegur. "Usahakan asupan yang tidak mencolok. Sarapan komuter terbaik adalah yang efisien, memuaskan, dan tidak mengganggu orang di sekitar. Tinggalkan telur di rumah," katanya.
Pete Rosier, Direktur Merek yfood, mengatakan bahwa komuter terjebak dalam posisi sulit—kekurangan waktu namun lapar di pagi hari, dan sangat sadar bagaimana makan di perjalanan dipandang orang lain. "Ketegangan itu nyata, dan celah itulah yang coba diisi yfood: sarapan yang lezat, bebas kekacauan, dan tidak menyinggung siapa pun," jelasnya.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana transportasi umum seperti KRL Commuter Line, MRT Jakarta, dan Transjakarta juga dipadati pekerja yang kerap sarapan di perjalanan. Bau makanan seperti gorengan, soto, atau nasi uduk sering menjadi keluhan di forum-forum pengguna. Namun, budaya tegur-menegur di Indonesia mungkin lebih longgar, meski tetap ada keengganan untuk berkonfrontasi. Survei serupa di Indonesia bisa menunjukkan angka yang tak kalah tinggi, mengingat padatnya jam sibuk dan kebiasaan sarapan di luar rumah.
Ke depan, tren sarapan cair atau makanan ringan tak berbau mungkin akan meningkat, tidak hanya di Inggris tetapi juga di kota-kota besar Indonesia. Pertanyaannya, akankah para komuter Indonesia juga beralih ke solusi praktis, atau justru mempertahankan kebiasaan lama yang berisiko memicu gesekan di ruang publik?



